Seorang petani di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, mengambil air dari saluran irigasi. Petani di kecamatan ini makin khawatir ketika musim kemarau tiba karena terbatasnya pasokan air mengancam kondisi sawah mereka. (JIBI/SOLOPOS/dok) Seorang petani di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, mengambil air dari saluran irigasi. Petani di kecamatan ini makin khawatir ketika musim kemarau tiba karena terbatasnya pasokan air mengancam kondisi sawah mereka. (JIBI/SOLOPOS/dok)
Rabu, 9 Agustus 2017 17:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

PERTANIAN SRAGEN
Kemarau, Areal Tanaman Padi Menyusut 18.626 Hektare

Pertanian Sragen, sebagian petani menanam palawija atau membiarkan lahan bera pada musim kemarau.

Solopos.com, SRAGEN — Musim kemarau tahun ini membuat luas areal tanaman padi di Sragen menyusut 18.626 hektare atau 46,65% ketimbang luas baku pertanian 39.928 hektare. Penyusutan disebabkan curah hujan menurun dan mengeringnya cadangan air irigasi dari waduk maupun embung.

Belasan ribu hektare lahan kini ditanami palawija dan ada yang dibiarkan bera. Penjelasan itu disampaikan Kabid Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Sragen, Moeljono, saat dihubungi di sela-sela kegiatan outbound di Banjarnegara, Rabu (9/8/2017) siang.

Berdasarkan data yang disampaikan petugas pengamat hama dan penyakit Distan Sragen, Moeljono menyampaikan luasan tanaman padi per Juli lalu mencapai 20.757 hektare. Luas tanaman padi itu, kata dia, masih memungkinkan bertambah di wilayah Sidoharjo dan Masaran seluas 545 hektare.

“Pada Agustus ini luasan tanaman padi maksimal hanya 21.302 hektare [53,35%] dari luas baku lahan 39.928 hektare. Luas tambahan di Sidoharjo itu hanya 55 hektare dan di Masaran sebanyak 390 hektare. Lahan lainnya beralih ke palawija dan bera. Lahan pertanian yang sengaja bera mencapai 3.000 hektare karena tidak ada sumber air yang diandalkan. Ribuan hektare itu berada di wilayah utara Bengawan Solo,” ujar dia.

Moeljono menyampaikan luasan lahan palawija itu di antaranya jagung seluas 7.762 hektare dan kedelai 3.442 hektare, serta sisanya untuk tanaman palawija lainnya.

Dia menjelaskan target tanaman padi selama setahun mencapai 103.808 hektare yang terdiri atas Oktober 2016-Maret 2017 mencapai 85.532 hektare dan April-September 2017 mencapai 23.276 hektare.

Gabungan Perkumpulan Petani Pengelola Air (GP3A) Daerah Irigasi Piji Gondang, Tri Hartono, saat ditemui wartawan, Rabu siang, menyampaikan ribuan hektare tanaman padi di lima desa di wilayah Sragen timur hanya mengandalkan sumur pantek, yakni Desa Banaran, Gringging, Bedoro, Sambungmacan, dan Banyurip.

Dia menyampaikan mestinya sawah di lima desa itu mendapat aliran air dari Dam Colo Timur tetapi sampai sekarang tidak mendapat pasokan air itu.

“Lima desa itu hanya mendapat pasokan air irigasi tambahan dari DI Piji tetapi debitnya sangat kecil. Padahal umur tanaman padi di lima desa itu mencapai 25 hari. Kami khawatir DI Piji itu hanya bisa bertahan sampai tiga pekan ke depan. Kalau tidak ada sumur pantek ya petani menjadi waswas. Dengan adanya sumur pantek maka biaya operasional petani menjadi tinggi,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…