Ilustrasi elpiji 3kg alias gas si melon. (JIBI/Bisnis/Dok.) Ilustrasi elpiji 3kg alias gas si melon. (JIBI/Bisnis/Dok.)
Rabu, 9 Agustus 2017 18:39 WIB Asiska Riviyastuti/JIBI/Solopos Ekonomi Share :

Pasokan Belum Stabil, Jatah Gas Melon Solo Bocor ke Daerah Lain

Kuota elpiji 3 kg untuk Solo diduga bocor ke daerah lain pasokan yang belum stabil.

Solopos.com, SOLO — Masyarakat masih kesulitan membeli elpiji 3 kilogram (kg) sehingga menyebabkan harga naik tinggi saat sampai ke konsumen. Kelangkaan juga mengakibatkan kebocoran pasokan daerah satu ke daerah lain.

Salah satu warga Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, Siti Maisaroh, 39, mengaku berkeliling sampai ke 20 toko dan pangkalan tapi tetap tidak mendapat gas melon. Dia menceritakan sekitar pukul 10.00 WIB kehabisan elpiji kemudian meminta saudaranya membeli tapi setelah berkeliling ke lima toko tanpa hasil akhirnya kembali ke rumah.

Setelah itu, berdua bersama adiknya, Siti berkeliling ke 15 toko dan pangkalan hingga ke Karangasem dan Jajar, Solo, tapi tetap tanpa hasil. “Menurut informasi dari pemilik toko, pasokan dikurangi sehingga sering kosong. Padahal dulu dari minyak tanah diminta ganti ke gas tapi sekarang malah gas susah. Apa boleh buat, akhirnya melanjutkan masak pakai tungku,” keluhnya, Rabu (9/8/2017).

Warga Colomadu, Sri Handayani, juga mengaku kesulitan membeli gas melon. Bahkan kalau pun akhirnya membeli elpiji 3 kg, harganya naik tinggi, dari biasanya di pengecer Rp17.500/tabung naik menjadi Rp20.000/tabung dan saat ini menjadi Rp25.000/tabung.

Kelangkaan elpiji 3 kg ini pun diakui Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Soloraya, Budi Prasetyo. Dia mengungkapkan berdasarkan pantauan yang dilakukan pada Rabu pagi, banyak pangkalan yang langsung kehabisan stok elpiji begitu pasokan dari agen datang.

Kondisi tersebut dipicu tingginya konsumsi masyarakat, tidak hanya dari kalangan rumah tangga tapi juga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Selain itu, ada juga kebocoran jatah elpiji Solo lari ke kabupaten lain yang dekat, seperti Sukoharjo maupun Karanganyar, tapi kami belum memiliki data kebocoran pasokan. Kebocoran terjadi karena pasokan di kabupaten lain juga berkurang sehingga untuk Solo meski sudah ada penambahan belum begitu terasa dampaknya,” ungkap Budi saat dihubungi Solopos.com.

Mulai Rabu, kabupaten lain seperti Sukoharjo, Karanganyar, dan Klaten mulai ada penambahan. Namun dampak penambahan alokasi ini baru mulai terlihat sekitar dua hingga tiga hari ke depan dan kebocoran tidak akan terjadi.

Menurut dia, berdasarkan rapat yang diadakan pada Selasa (8/8/2017), Wonogiri juga mengajukan tambahan pasokan tapi belum terealisasi karena masih proses. Pejabat sementara (Pjs) Area Manager Communication and Relation Jawa Bagian Tengah (JBT) Pertamina, Muslim Dharmawan, menyampaikan tidak pernah ada pengurangan suplai gas melon tapi mengembalikan pola distribusi sebelum Lebaran atau ke kondisi normal.

Hal ini mengingat selama Lebaran ada ada kenaikan distribusi sekitar 8% dari kondisi normal yang menyesuaikan dengan permintaan masyarakat yang tinggi saat hari besar keagamaan.

“Kebijakan penerapan distribusi elpiji 3 kg berbeda dengan non-PSO [public service obligation] di mana Pertamina mengikuti Permen ESDM No. 26/2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Elpiji. Pertamina mencoba mengembalikan secara bertahap pola konsumsi ke kondisi reguler. Dikhawatirkan jika tidak terkendali, pola konsumsi akan terus melonjak hingga akhir tahun,” ujarnya.

Apalagi kuota elpiji subsidi ini telah diatur oleh pemerintah. Namun, dia mengakui konsumsi elpiji 3 kg di beberapa lokasi di Jateng dan DIY masih tinggi sehingga beberapa pemerintah daerah (pemda) mengajukan tambahan fakultatif.

Pertamina menyiapkan 174.160 tabung untuk total lima lokasi yang terindikasi pola konsumsinya belum stabil setelah Lebaran. Sebelumnya pada 2-8 Agustus, Pertamina telah menyalurkan tambahan fakultatif di Sragen sebanyak 47.040 tabung atau menjadi 809.560 tabung selama sebulan dari alokasi normal bulanan sebanyak 762.520 tabung.

Solo juga telah dilakukan penambahan 47.040 tabung yang disalurkan pada 5-12 Agustus dari alokasi normal bulanan 714.520 menjadi 761.560 tabung. “Mulai hari ini [Rabu] hingga 12 Agustus kami juga mendistribusikan penambahan fakultatif di tiga lokasi, yakni Karanganyar sebanyak 24.080 tabung, Sukoharjo 28.560 tabung, dan Klaten 27.440 tabung. Penyaluran normal Karanganyar per bulan adalah 800.880 tabung, Sukoharjo 783.250 tabung dan penyaluran bulanan Klaten 940.760 tabung,” kata dia.

Menurut dia, Pertamina siap menyuplai kebutuhan elpiji 3 kg untuk masyarakat. Dia pun berharap masyarakat khususnya kalangan ekonomi menengah untuk turut berperan dalam mewujudkan distribusi dan penyaluran elpiji bersubsidi yang tepat sasaran.

 

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…