Welda, Satria dan Rizki (dari kiri ke kanan), Ketiga mahasiswa UII melakukan penelitian di Laboratorium Terpadu UII, Selasa (8/8/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja) Welda, Satria dan Rizki (dari kiri ke kanan), Ketiga mahasiswa UII melakukan penelitian di Laboratorium Terpadu UII, Selasa (8/8/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 9 Agustus 2017 13:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Mahasiswa UII Racik Sambiloto untuk Obat Diabetes dengan Teknologi Nano

Empat mahasiswa UII melakukan penelitian dan berhasil menciptakan obat diabetes dengan teknologi nano

 

Solopos.com, JOGJA- Empat mahasiswa UII melakukan penelitian dan berhasil menciptakan obat diabetes dengan teknologi nano. Bagaimana seluk beluk pembuatan obat berbahan daun sambiloto ini.

Satu persatu mahasiswa memasuki ruang laboratorium yang berada di lantai bawah Laboratorium Terpadu UII, Selasa (8/8/2018) siang. Mereka mengambil jas laboratorium yang khusus digunakan melakukan penelitian. Selanjutnya menuju sebuah ruang berukuran 3 x 3 yang terdapat ratusan peralatan lab farmasi.

Salahsatu alat yang paling tersohor di ruangan tersebut adalah particle size analyzer (PSA) nano dan ultrasonic homogenizer. Konon belum banyak perguruan tinggi yang memiliki PSA nano.

Mahasiswa yang tengah sibuk di lab tersebut antara lain Dwi Welda Afetma, Satria Dwi Setiawan dari Farmasi dan Rizki Fajri dari Teknik Kimia. Satu mahasiswa lagi yang absen karena harus melaksanakan tugas lain adalah Aldia Dwi Karina Ningrum.

Mereka tergabung sebagai tim penelitian tentang metode nanopartikel obat modern terbarukan yaitu self-nano emulsifying drug delivery system (SNEEDS), dengan memodifikasi isolat tanaman sambiloto yaitu andrograpolide untuk meningkatkan efektifitas sambiloto sebagai anti diabetes.

“Kalau penelitian sebelumnya itu hanya sebatas ekstrak saja, itu masih sederhana. Kami mengkombinasikan nano technology dari dunia farmasinya. Membuat obat itu yang paling susah adalah larutannya, karena itu kami pakai nano,” terang Dwi Welda, kepada Harianjogja.com di Laboratorium Terpadu UII, Selasa (8/8/2017).

Penelitian itu telah dinyatakan lolos seleksi nasional dan akan ditarungkan dengan hasil penelitian mahasiswa lain dari seluruh Indonesia dalam Pimnas ke-30 di Makassar akhir Agustus 2017 mendatang.

Mereka sepakat dengan penelitian berjudul Efficient Methode Analisis Sediaan Nanoherbal Andrograpolide untuk Uji Difusi dan Disolusi. Menurut Welda, pengembangan penelitian itu berangkat dari diabetes yang menjadi penyebab kematian pada urutan kedua di Indonesia.

Sedangkan penggunaan teknologi nano pada sambiloto belum pernah dilakukan mahasiswa lain di Indonesia. Bahkan mungkin belum ada obat diabetes dari daun sambiloto diolah menggunakan teknologi nano.

“Teknologi nano ini baru di luar negeri yang banyak,” ucap mahasiswa peraih Best Oral Speaker dalam IPoPS 2014 di Selangor Malaysia ini.

Satria menambahkan, bentuknya obatnya berupa isolat yang dimasukkan ke dalam kapsul. Isolat sambiloto itu merupakan pemurnian dari ekstrak sambiloto menggunakan teknologi nano. Modifikasi itu dilakukan karena isolat tersebut memiliki kelarutan yang kurang baik di dalam tubuh sehingga dengan teknologi nanopartikel dapat meningkatkan efek isolat sambiloto sebagai anti diabetes mellitus.

“Harapannya dengan uji disolusi dan difusi yang sudah kami lakukan dapat menjadikan isolat sambiloto masuk tahap pembuatan obat herbal selanjutnya yaitu pra klinik dan klinik mungkin bisa menggunakan hewan,” ungkap Satria.

Cara pembuatan, mereka melakukan ekstraksi sambiloto di laboratorium khusus herbal, karena dalam ekstrak masih banyak senyawa di dalamnya. Kemudian melalui proses laboratorium, mereka memisahkan secara khusus senyawa tunggal andrograpolide. Kemudian dimurnikan dari ekstrak, menggunakan teknik fraksinasi untuk mengambil bagian dari andrograpolide.

“Kami pakai dosisnya sangat kecil, sekitar 15 miligram untuk satu formula [minum], dia efeknya sudah bagus,” imbuh Welda.

Para tim peneliti ini mengakui, bahwa penelitian tersebut masih dalam tahap awal. Namun mereka optimistis bisa terus berlanjut dan berharap bisa bermanfaat bagi masyarakat melalui senyawa tunggal andrograpolide. Apalagi daun sambiloto merupakan tanaman lokal yang mudah ditemui.

“Apapun hasilnya di Pimnas nanti, penelitian ini akan tetap berlanjut. Karena komitmen kami untuk meneliti tentang sambiloto, ada beberapa dosen yang fokus juga penelitian tersebut,” ungkap Bambang Hernawan Nugroho, dosen yang mendampingi di laboratorium kemarin.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…