Ilustrasi kesehatan reproduksi wanita (JIBI/Solopos/Dok.) Ilustrasi kesehatan reproduksi wanita (JIBI/Solopos/Dok.)
Rabu, 9 Agustus 2017 09:50 WIB Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KESEHATAN JATENG
Kasus Kematian Ibu di Jateng Turun

Kesehatan di Jateng menunjukkan evaluasi yang positif yang dibuktikan dengan turunnya angka kematian ibu.

Solopos.com, SEMARANG – Pembangunan kesehatan di Jawa Tengah (Jateng) pada semester pertama 2017 menunjukkan tren yang positif. Dari 50 indikator kesehatan yang tercantum di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jateng 2013-2018, 49 di antaranya berhasil dicapai.

“Capaian kinerja pembangunan kesehatan di Jawa Tengah 2017, dari 50 indikator yang ada di RPJMD, sampai setengah tahun ini 49 di antaranya bisa dicapai. Masih ada satu indikator yang masih perlu didorong, yakni penemuan kasus baru TB CNR,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, Yulianto Prabowo, dalam acara Evaluasi Tengah Tahun Pembangunan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2017 di Wisma Perdamaian, Semarang, Selasa (8/8/2017).

Yulianto menyebutkan beberapa capaian positif di bidang kesehatan itu, salah satunya adalah tren menurunnya kasus kematian ibu. Pada 2014, terdapat 71 kasus kematian ibu. Jumlah itu turun menjadi 619 kasus pada 2015 dan 602 pada 2016.

“Hingga 30 Juni 2017, tercatat ada 215 kasus kematian ibu di Jateng,” jelas Yulianto seperti dikutip laman Internet resmi Pemprov Jateng.

Selain tren penurunan kasus kematian ibu, angka kesakitan malaria Jateng juga menurun selama dua tahun terakhir. Pada 2015, angka kesakitan malaria mencapai 0,06%, kemudian berkurang menjadi 0,03% pada 2016 dan pada semester pertama 2017 menjadi 0,011%.

Tak hanya itu, usia harapan hidup masyarakat di Jateng juga mengalami peningkatan selama empat tahun terakhir. Pada 2013, usia harapan hidup Jateng rata-rata 72,6 tahun. Meningkat menjadi 73,46 tahun pada 2014, 73,6 tahun pada 2015 dan menjadi 74,02 tahun pada 2016.

Yulianto menambahkan tahun ini pihaknya juga menargetkan tujuh daerah di Jateng bisa bebas buang air besar sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF). Tahun lalu, deklarasi BABS baru dilakukan satu kabupaten, yakni Grobogan.

“Sampai akhir tahun nanti, harapan kami deklarasi ODF bisa dilakukan di tujuh daerah, yakni Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Solo, Boyolal, Klaten, dan Semarang. Di samping itu, upaya pemanfaatan jamban juga terus meningkat. Sampai pertengahan 2017 ini, hampir 80% penduduk di Jateng sudah mengakses jamban,” terang Yulianto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Lowongan Pekerjaan
PT. MEGA KHARISMA PACKINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Seni Rupa Solo dan Melindurisme

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (5/8/2017). Esai ini karya Halim H.D., seorang networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Cara paling gampang untuk mengingat, apalagi dalam bentang sejarah, lihat saja jejak yang besar….