Ilustrasi Embung (Dok/JIBI/Solopos)
Rabu, 9 Agustus 2017 11:00 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

INFRASTRUKTUR SRAGEN
2 Embung Dibangun di Ngrampal dan Miri

Pemkab Sragen membangun dua embung untuk menampung air.

Solopos.com, SRAGEN — Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dinas Pertanian Sragen tahun 2017 ini membangun dua embung untuk menambah kapasitas air bagi lahan pertanian di Bumi Sukowati. Dua embung itu dibangun di Desa Bener, Ngrampal, dan Desa Jeruk, Miri.

Penjelasan tersebut disampaikan Kasi Lahan dan Air Dinas Pertanian (Dispertan) Sragen, Giyono, saat dihubungi melalui telepon seluler (ponsel), Selasa (8/8/2017) siang. Pagu anggaran pembangunan dua embung itu berturut-turut Rp470 juta dan Rp360 juta.

“Tahun ini kami bangun hanya di dua lokasi, yaitu Bener dan Jeruk. Setiap tahun memang kami upayakan pembuatan embung-embung baru,” tutur dia.

Giyono menjelaskan pembangunan embung diharapkan bisa memenuhi kebutuhan air lahan di dua desa itu. “Harapannya ya satu desa itu bisa tersuplai kekurangannya. Kalau di Jeruk itu kan memang lahannya tadah hujan,” sambung dia.

Semakin luasnya lahan pertanian yang terjangkau layanan air irigasi diharapkan bisa mendongkrak produktivitas padi, utamanya saat masa tanam (MT) III. Selama ini lahan di dua desa itu selalu kekurangan air saat musim kemarau.

Ihwal jumlah embung existing saat ini, menurut Giyono, belum mencapai jumlah ideal. Perlu adanya penambahan embung secara bertahap. “Kondisi embung pertanian saat ini mulai mengering. Sekitar 25 persen sudah kering,” kata dia.

Embung-embung yang telah mengering berada di utara Sungai Bengawan Solo. Sedangkan embung yang di selatan Sungai Bengawan Solo masih berair dan masih bisa digunakan. “Embung itu peruntukannya saat musim kemarau,” ujar dia.

Kepala Dinas Pertanian Sragen, Eka Rini Mumpuni, saat diwawancara pekan lalu mengatakan penyusutan debit air terjadi di sejumlah waduk dan embung pertanian. Total embung dan waduk di Sragen 50 lokasi.

“Jumlah waduk dan embung sampai yang kecil-kecil sekitar 50 lokasi ada itu. Karena sudah masuk musim kemarau, maka sudah terjadi penyusutan debit air. Penyusutan itu akan terus terjadi sepanjang musim kemarau ini,” uungkap dia.

Rini mengimbau petani mengoptimalkan keberadaan sumur-sumur pantek dan sumur dalam saat kemarau. Jangan sampai tanaman padi kekurangan air dan mati. “Petani paham saat air dari saluran kering mereka beralih ke sumur,” tutur dia.

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…