Pekerja mengidentifikasi batu candi perwara di kompleks Candi Plaosan, Klaten, Senin (7/8/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Pekerja mengidentifikasi batu candi perwara di kompleks Candi Plaosan, Klaten, Senin (7/8/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Rabu, 9 Agustus 2017 09:35 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

CAGAR BUDAYA KLATEN
Begini Rumitnya Merekonstruksi Satu Candi Plaosan

Cagar budaya Klaten, merekonstruksi satu candi membutuhkan waktu 1.470 jam atau sekitar 61 hari.

Solopos.com, KLATEN — Merekonstruksi candi yang rusak bukanlah pekerjaan gambang. Sebagai contoh candi perwara berukuran 5 meter x 5 meter x 7,25 meter di kompleks Candi Plaosan butuh waktu setidaknya 1.470 jam atau sekitar 61 hari untuk merekonstruksi.

“Merekonstruksi candi itu pekerjaan seniman. Ia membutuhkan rasa,” kata Kepala Unit Candi Plaosan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Deny Wahju Hidayat, membuka perbincangan dengan Solopos.com, Senin (7/8/2017). “Bagian paling menantangnya adalah mencari batu,” lanjut dia sambil tersenyum.

Jika diurai, seorang pekerja harus mencari, mengidentifikasi, dan menyusun batu-batu berserakan tujuh jam sehari tanpa istirahat selama tujuh bulan. Ia harus membongkar pasang paling tidak 10.000 keping batu dengan berat total sekitar 20 ton.

Saat ini baru 19 candi perwara yang sudah direkonstruksi dari total 326 candi. “Dalam satu tim ada 20 orang terdiri atas arkeolog, teknisi, sarjana teknik sipil, hingga lulusan SMK bangunan,” kata Deny.

Proses rekonstruksi candi dimulai dengan tahap identifikasi batu. Batu-batu berserakan akibat banjir lahar, gempa bumi, dan lainnya didata apakah termasuk batu fondasi, batu kaki candi, batu tubuh candi, atau batu atap candi.

Bagian tubuh pun masih dibagi lagi menjadi lis, padma, hingga roset. “Atap juga ada banyak macamnya sirap, sungkup, pinakel, dan sebagainya,” sambung Arif Danendro, teknisi pemugaran Candi Plaosan.

Seusai identifikasi, digelarlah susunan percobaan. Misalnya, lanjut Arif, yang akan direkonstruksi adalah candi nomor 4. Tak jarang, di lapangan justru ditemukan batu-batu untuk candi nomor 3, 4, dan 5.

Setiap batu dalam candi memiliki ciri unik. Ia tidak mau dipasang di candi yang bukan menjadi tempatnya. “Kalau batu bisa bicara, mungkin dia akan bilang tempat saya tidak di sini, tapi di sana,” terang pria berkacamata itu.

“Bentuk pen, padma, takikan tiap batu berbeda. Kalau ada bulatan ukurannya pun berbeda. Pen ini untuk menahan gaya geser karena daerah sini rawan gempa,” imbuh dia.

Kadang dijumpai saat hendak merekonstruksi candi nomor 4 justru candi nomor 3 yang duluan jadi kendati hanya 75-80 persen bagian candi. Namun, dari situ bisa diproyeksikan gambaran utuh sebuah candi.

“Arsitektur candi ini bersifat simetris. Apalagi di sini ada dua candi induk yang bentuk sangat simetris,” kata Arif.

Mencari batu tak semudah yang dibayangkan. Seorang pekerja yang pulang terus berpikir di mana lokasi batu yang dikehendaki berada. Bahkan, ada pula seorang pencari batu yang menggunakan spiritual untuk mendapatkannya. “Ada juga yang sampai kungkum, puasa, bertapa. Ini zaman sekarang lo,” sahut Deny.

Kendati demikian, jumlah dan kualitas pencari batu kini menurun dibanding sebelumnya. Kini, pencari lebih banyak menggunakan pertimbangan logika untuk menemukan batu yang cocok. Lain halnya zaman dulu lebih mengedepankan rasa.

“Dulu itu pakai feeling bisa dapat banyak. Sekarang semuanya dipikir pakai logika,” beber Arif.

“Pencari batu ini kan biasanya seperti magang dulu ikut yang senior nanti lama-lama bisa juga seperti seniornya,” tambah Deny.

Pernah Arif mencoba membakukan sistem pembelajaran pencari batu. Ia membuat materi mengenai bentuk pen, takikan, padma, lis, dan sebagainya. Kemudian materi itu diajarkan kepada para calon pencari batu. “Tapi usaha itu tidak pernah saya lakukan. Sepertinya tidak mungkin,” tutur Arif.

Tukiman, 65, salah satu pencari batu mengatakan tak setiap hari ia mendapatkan batu-batu yang dikehendakinya. Namun, kadang dalam sehari ia bisa menemukan banyak batu.

“Kalau pas menemukan batu jadi semangat lagi. Tapi kalau enggak ya pusing juga,” ujar pria warga Desa Tlogo, Prambanan, ini.

Kecermatan menjadi kunci menemukan batu-batu unik sebuah candi. Bagian-bagian candi memiliki bentuk batu berbeda-beda.

“Tentu butuh kemampuan mengingat yang kuat juga. Batu yang dicari harus diingat sedetail mungkin termasuk lokasi kalau sebelumnya mungkin pernah di lokasi tertentu,” tutur pria paruh baya itu.

 

Lowongan Pekerjaan
PT. GITA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Seni Rupa Solo dan Melindurisme

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (5/8/2017). Esai ini karya Halim H.D., seorang networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Cara paling gampang untuk mengingat, apalagi dalam bentang sejarah, lihat saja jejak yang besar….