Aktivitas bongkar muat beras di Gudang Perum Bulog Divisi Regional DIY, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Selasa (18/4). (JIBI/Harian Jogja/Gigih M. Hanafi) Aktivitas bongkar muat beras di Gudang Perum Bulog Divisi Regional DIY, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Selasa (18/4). (JIBI/Harian Jogja/Gigih M. Hanafi)
Rabu, 9 Agustus 2017 18:20 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Belum Panen, Penyerapan Beras Bulog DIY Menurun Drastis

Penyerapan beras ke Bulog DIY pada bulan ini mengalami penurunan

Solopos.com, JOGJA-Penyerapan beras ke Bulog DIY pada bulan ini mengalami penurunan. Pasalnya, masa panen kedua baru akan terjadi pada awal September.

“Kalau saat ini, penyerapan [beras] per hari sangat kecil, karena belum waktunya panen,” ujar Kepala Bulog Divre DIY, Miftahul Ulum mengatakan saat dihubungi Harianjogja.com, Selasa (8/8/2017).

Miftah mengungkapkan beras yang diserap Bulog pada bulan-bulan ini berkurang drastis. Pasalnya, beras yang diserap per harinya saat ini tidak lebih dari 20 ton. Kendati demikian, ketersediaan stok beras untuk wilayah DIY masih relatif aman.

“Sangat kecil sekali, sehari hanya sepuluh ton, kadang juga hanya sembilan ton. Ada wilayah yang saat ini panen, tetapi jumlahnya sedikit,” jelas Miftah.

Meski pasokan beras pada bulan ini relatif turun, namun Miftah memastikan stok yang tersedia untuk mencukupi kebutuhan beras bagi masyarakat DIY masih aman. Untuk empat bulan ke depan, beras yang tersedia mencapai 20.000 ton, sehingga sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan rastra dan kebutuhan lainnya.

“Sambil menunggu panen kemungkinan September. Kalau pun tidak bisa terserap, masih ada daerah lain di Indonesia yang bisa mencukupi daerah lain yang kekurangan,” papar Miftah.

Belum lama ini, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY mengungkapkan DIY surplus beras. Miftah memaparkan kondisi tersebut menunjukkan produk beras DIY mengalami surplus. Namun, tidak semua beras DIY masuk ke Bulog. Pasalnya, beras-beras di DIY di samping dikonsumsi masyarakat Jogja, juga dijual ke Jakarta dan kota lainnya.

“DIY surplus beras, artinya petaninya bagus. Tetapi tidak semua beras masuk ke Bulog. Ada juga yang melalui penjualan langsung,” jelas Miftah.

Sementara itu, terkait kasus penolakan rastra di Gunungkidul, Miftah mengungkapkan hal itu sudah diselesaikan. Beras yang disebut dikeluhkan warga langsung diganti pihak Bulog dengan yang baru.

Setelah mendapatkan keluhan tersebut, pihaknya melakukan pengecekan di gudang. Pengecekan dilakukan pada beras yang dikembalikan, namun beras tersebut dinilai tidak ada masalah.

“Kurang lebih ada sepuluh ton beras yang dikembalikan, kami hari itu juga langsung melakukan penggantian dengan beras yang baru dan tidak ada masalah,” papar Miftah.

Lowongan Pekerjaan
PT. MEGA KHARISMA PACKINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Seni Rupa Solo dan Melindurisme

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (5/8/2017). Esai ini karya Halim H.D., seorang networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Cara paling gampang untuk mengingat, apalagi dalam bentang sejarah, lihat saja jejak yang besar….