Pengendara motor melintas di dekat sumur bor dalam di Dusun Jaten, Wonokerto, Kecamatan Wonogiri, Rabu (9/8/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Pengendara motor melintas di dekat sumur bor dalam di Dusun Jaten, Wonokerto, Kecamatan Wonogiri, Rabu (9/8/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Rabu, 9 Agustus 2017 18:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

AIR BERSIH WONOGIRI
Mangkrak, Pemerintah Desa Minta Kejelasan Pemanfaatan Sumur Bor

Pemerintah desa meminta kejelasan soal pemanfaatan sumur bor buatan pemerintah yang saat ini mangkrak.

Solopos.com, WONOGIRI — Pemerintah sejumlah desa di Wonogiri meminta kejelasan pemanfaatan sumur bor dalam yang mangkrak sejak pembangunan terhenti pada 2016 lalu. Pemerintah desa tak berani memanfaatkan air sumur itu karena hasil pekerjaan belum diserahkan.

Kini proyek tersebut malam sedang disidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonogiri karena diduga terdapat unsur tindak pidana korupsi (tipikor) saat realisasi. Proyek sumur bor dalam itu merupakan program Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral (PESDM) Wonogiri, Mei-Desember tahun lalu.

Dinas itu membangun 15 unit sumur bor di 10 kecamatan dengan total anggaran Rp5,75 miliar. Masing-masing unit dibangun dengan dana Rp370 juta hingga Rp394 juta.

Proyek dilaksanakan rekanan PT Gidhisa Bangun Persada, Bandung, Jawa Barat. Hingga batas akhir pekerjaan capaian proyek hanya 62 persen.

Menurut penyidik Kejari, seluruh proyek tidak ada yang rampung dan termanfaatkan. Idealnya, dalam satu paket sumur bor terdapat sumur dan air, diesel atau pompa penyedot air, bak penampungan, dan siap dimanfaatkan. (Baca juga: Kejari Tunggu Inspektorat Hitung Kerugian Negara Proyek Sumur Bor)

Berdasar pantauan Solopos.com di beberapa sumur bor sejak beberapa pekan lalu hingga Rabu (9/8/2017), ada sumur yang tanpa diesel tetapi sudah ada air dan bak penampungan. Pemanfaatannya tinggal memerlukan diesel dan listrik.

Sumur dengan kondisi demikian terdapat di Dusun Jaten, Desa Wonokerto, Kecamatan Wonogiri, dan Dusun Nglenggong, Desa Jendi, Selogiri. Ada pula sumur yang hanya tinggal memanfaatkan, seperti di Bulusulur, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri.

Lainnya ada yang hanya terdapat bak penampungan dan sumur tanpa air, seperti di Geritan, Jendi, Selogiri. Sumur tak ada air karena saat pembangunan pekerja tak berhasil menemukan sumber air.

Kepala Desa (Kades) Wonokerto, Suyanto, ketika ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu, mengatakan sumur bor di Dusun Jaten sebenarnya tinggal dimanfaatkan. Namun, hingga sekarang sumur mangkrak karena belum ada pihak mana pun yang menyerahkannya kepada pemerintah desa.

Alhasil, pemerintah desa tak berani memanfaatkannya karena khawatir terlibat masalah. “Kami siap mengelolanya kalau sumur sudah diserahkan. Sebenarnya sumurnya belum ada diesel dan listrik. Tapi kalau dalam kondisi seperti itu pun kami diminta mengelola, kami siap. BUM desa yang akan mengelolanya. Soal diesel dan listrik bisa kami usahakan sendiri,” kata Kades.

Air sumur bor dapat dimanfaatkan untuk menunjang pemenuhan kebutuhan air bagi 50-an keluarga Dusun Jaten, baik untuk konsumsi maupun pertanian hortikultura. Kades berharap Pemkab secepatnya memberi kejelasan penyerahannya.

Terpisah, Kades Jendi, Suharni, menyampaikan hal serupa. Menurut dia sumur bor di Nglenggong tinggal dimanfaatkan. Tetapi sampai kini masih mangkrak. Pemerintah desa masih menunggu kejelasan mekanisme pemanfaatannya dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab).

Kades juga berharap sumur bor di Geritan yang belum rampung dikerjakan segera diselesaikan. Bupati Joko Sutopo mengaku akan mencari solusi agar sumur bor bisa dimanfaatkan dan yang belum rampung dikerjakan dapat dilanjutkan hingga selesai.

Dia akan berkoordinasi dengan dinas terkait di lingkungan Pemprov Jateng. Dinas PESDM yang sebelumnya memprogramkan pembangunan sumur bor kini diambil alih Pemprov sejak awal 2017.

 

Lowongan Pekerjaan
Sales Lapangan FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Seni Rupa Solo dan Melindurisme

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (5/8/2017). Esai ini karya Halim H.D., seorang networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Cara paling gampang untuk mengingat, apalagi dalam bentang sejarah, lihat saja jejak yang besar….