Kendaraan dari arah Banyumanik terlibat kemacetan di turunan Gombel karena adanya proyek pembangunan underpass dan flyover Jatingaleh di Semarang, Jumat (28/7/2017). (Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com) Kendaraan dari arah Banyumanik terlibat kemacetan di turunan Gombel karena adanya proyek pembangunan underpass dan flyover Jatingaleh di Semarang, Jumat (28/7/2017). (Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com)
Selasa, 8 Agustus 2017 06:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

TRANSPORTASI SEMARANG
Proyek Underpass Jatingaleh Molor, Rute 2 Koridor BRT Trans Semarang Dialihkan

Transportasi umum BRT Trans Semarang terpaksa mengalihkan rute gara-gara waktu pelaksanaan proyek Underpass Jatingaleh molor.

Solopos.com, SEMARANG — Rute dua koridor Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, yakni Koridor II dan VI, terpaksa dialihkan untuk sementara sementara waktu akibat molornya pengerjaan proyek Underpass Jatingaleh hingga akhir Agustus 2017. “Ada dua koridor Transsemarang yang terdampak molornya pembangunan Underpass Jatingaleh,” kata Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Transsemarang Ade Bhakti di Semarang, Senin (7/8/2017).

Pembangunan Underpass Jatingaleh membuat kemacetan kerap terjadi di kawasan itu, terutama dari tanjakan Kaliwiru sampai Jl. Kesatrian, gara-gara penyempitan badan jalan akibat pengerjaan proyek infrastruktur Semarang itu. Termasuk BRT Transsemarang, sebagaimana diakui Ade, kemacetan membuat armada terganggu headway, yakni waktu keberangkatan antararmada karena idealnya jarak ideal antarbus adalah 10 menit.

“Kecuali, pagi hari yang kami atur 5 menit sekali jalan. Karena harus lewat Jatingaleh, mau tidak mau setelah lepas dari kemacetan bus harus mengejar jarak dengan armada di depannya,” katanya.

Ketika lalu lintas di kawasan Jatingaleh benar-benar padat, bus di depan sudah sampai di Halte Sisemut, Kabupaten Semarang, sementara bus di belakangnya baru lepas dari Jatingaleh. “Jarak antarbus bisa molor sampai 20-25 menit, bahkan sampai 35 menit. Oleh karena itu, kami putar rute melewati Jalan Semeru menuju Stadion Jatidiri dan keluar ke Jalan Karangrejo,” katanya.

Di samping headway dan interval kedatangan antarmoda, kata dia, pengalihan rute transpoetasi umum Kota Semarang itu untuk mengantisipasi efek dari kemacetan terhadap kondisi mesin, seperti terbakarnya kampas kopling dan overheat. “Kalau kami paksakan lewat Jatingaleh, bisa-bisa malah menambah kemacetan yang terjadi. Masalahnya, ketika kepadatan di Underpass Jatingaleh pas puncak-puncaknya, empat sampai dengan enam bus kami terjebak di situ,” katanya.

Pengalihan rute BRT Trans Semarang itu, ditegaskan Ade hanya bersifat sementara dan pada jam-jam tertentu, baik Koridor II yang melayani Terminal Terboyo-Sisemut maupun Koridor VI dengan rute Undip-Unnes. “Dengan diberlakukannya pengalihan rute, ada dua shelter terdampak, yakni Shelter Don Bosco dan Kesatrian arah ke atas. Artinya, dua halte itu tidak terlewati Bus Transsemarang,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, di dua shelter itu ditempeli pengumuman bahwa pada jam-jam tertentu bus tidak akan melewatinya dan para penumpang disarankan untuk bergeser ke shelter yang terdekat. “Kami juga berkoordinasi dengan temen-temen paguyuban angkutan kota yang melintasi Jl. Karangrejo sebab bus kami yang melewati rute itu tidak menaik-turunkan penumpang, dan rute ini sifatnya sementara,” pungkasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Lowongan Pekerjaan
PT. MEGA KHARISMA PACKINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
”Despacito” dan Nasib Lagu Sejenis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Damar Sri Prakoso, Program Director Radio Solopos FM. Alamat e-mail penulis adalah damar.prakoso@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melarang pemutaran lagu Despacito di lembaga penyiaran publik…