Foto ilustrasi: Saat anak bersedih karena patah hati, jadilah teman curhatnya yang baik. (mirror.co.uk) Foto ilustrasi: Saat anak bersedih karena patah hati, jadilah teman curhatnya yang baik. (mirror.co.uk)
Selasa, 8 Agustus 2017 06:00 WIB Iskandar/JIBI/Solopos Relation Share :

TIPS PARENTING
Anak Putus Cinta? Jadilah Teman Curhat

Saat anak putus cinta sebaiknya orang tua menjadi teman curhat yang baik.

Solopos.com, SOLO-Saat anak beranjak remaja, tak sedikit di antara mereka mengalami patah hati akibat putus cinta. Sebagai ibu, bagaimana menyikapi hal ini? Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran UNS Solo, Rin widya Agustin mengatakan menghadapi anak yang sedang sedih karena putus cinta, perlu berhati-hati.

Terutama jika anak tersebut menunjukkan perilaku tak wajar seperti mengurung diri dan sebagainya. Dia berpendapat jika dalam putus cinta anak sudah sampai taraf mengurung diri, dinilai sudah bahaya.

Hal itu menuntut kewaspadaan bagi orang tua. “Ketika situasi sudah demikian genting dan orang tua sulit untuk mengendalikan mending dibawa ke psikolog,” ujar dia ketika ditemui Solopos.com, belum lama ini, di ruang kerjanya.

Menurut dia, jika orang tua mencoba meredakan suasana dengan cara yang salah tak akan bisa menyelesaikan persoalan. Dia mencontohkan, jika orang tua mencoba masuk ke persoalan dengan menggurui dinilai akan sulit bisa dimengerti karena itu harus dihindari.

Dia berpendapat remaja seperti ini butuh tempat curahan hati. Tapi dia tak sembarang mau mencurahkan isi hati ke sembarang orang. Remaja itu hanya akan mau menumpahkan isi hati jika orang tersebut tulus, dapat dipercaya, orang tersebut tidak akan menyalahkannya dan sebagainya.

Biasa orang tua yang tak tahu persoalan ini cenderung menyalahkan remaja tersebut, menuntut berbagai keharusan dan seterusnya. Karena itu, ungkap dia, sejak dini jika menjalin hubungan dengan remaja, orang tua harus bisa menjadi tempat yang bisa dipercaya.

“Kalau ingin dipercaya jangan sembarang menge-judge seseorang. Karena anak itu butuh didengarkan dan dia biasanya hanya siap mengeluarkan unek-unek. Sementara orang tua siapnya memasuki atau mengisi,” kata dia.

Dengan demikian anak yang bebannya sudah berat harus menampung lagi apa yang dikatakan orang tua. Jika hal ini yang terjadi justru kasihan anak tersebut, meski sebenarnya orang tua tidak bisa disalahkan begitu saja karena bisa jadi orang tua menganut nilai-nilai konvensional.

Lowongan Pekerjaan
Staf IT Rumah Sakit Mata Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
”Despacito” dan Nasib Lagu Sejenis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Damar Sri Prakoso, Program Director Radio Solopos FM. Alamat e-mail penulis adalah damar.prakoso@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melarang pemutaran lagu Despacito di lembaga penyiaran publik…