Pedagang menjual tas kulit nabati di Pasar Beringharjo Timur lantai 3. Lantai 3 khusus menyediakan produk kerajinan, mulai dari kerajinan kayu, rotan, kulit, sampai bambu. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Pedagang menjual tas kulit nabati di Pasar Beringharjo Timur lantai 3. Lantai 3 khusus menyediakan produk kerajinan, mulai dari kerajinan kayu, rotan, kulit, sampai bambu. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 8 Agustus 2017 15:55 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Produk Kerajinan Kulit DIY Terus Tumbuh

Industri mikro kecil (IMK) di Jogja mengalami pertumbuhan yang cukup baik

 

Solopos.com, JOGJA-Industri mikro kecil (IMK) di Jogja mengalami pertumbuhan yang cukup baik, terutama di bidang kerajinan kulit. Hal itu sejalan dengan tumbuhnya pariwisata DIY yang terus meningkat setiap tahunnya.

“Industri mikro kecil di Jogja banyak ditopang dan mendukung kegiatan pariwisata. Artinya tidak seperti daerah lain yang kebanyakan adalah industri manufaktur besar,” ujar Kepala Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik (BBKKP) DIY, Agus Kutoro, Senin (7/8/2017).

Agus memaparkan seiring dengan berkembangnya pariwisata DIY yakni dengan munculnya wahana-wahana wisata semakin menggeliatkan industri ini. Potensi produk yang dikembangkan sebagian besar adalah kerajinan dan kebutuhan suvenir.

Terutama untuk produk kulit yang banyak dikembangkan sebagai produk tas, ikat pinggang hingga dompet. Meningkatnya pariwisata, kata Agus, maka kebutuhan produk kerajinan inipun juga semakin tinggi.

“Kerajinan kulit paling banyak dikembangkan saat ini. Bahkan, produk kerajinan ini banyak ditemui di tempat-tempat wisata. Hanya saja, memang para pelaku industri ini belum konsisten dalam mempertahankan produknya,” jelas Agus.

Lebih lanjut Agus mengungkapkan para pelaku industri ini masih cenderung mengikuti tren pasar. Jika minat pasar tengah ramai dengan produk tas, maka produk itu akan terus dibuat. Namun, jika pasar produk itu mulai sepi peminat, maka pelaku industri kerajinan kulit ini juga akan beralih ke produk lain yang tengah menjadi tren.

“Padahal, kalau melihat potensi DIY, kerajinan kulit DIY ini akan lebih berpeluang jika dikembangkan dengan memadukan budaya. Seperti produk wayang, hingga saat ini produk kerajinan kulit ini masih sangat laris di pasar mancanegara,” papar Agus.

Produk kulit dari DIY, seperti dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) DIY awal Agustus lalu, banyak diekspor ke Korea Selatan. Dibandingkan negara lain, kontribusi penyerapan produk kulit di negara ini mencapai 21,84%.

Kendati demikian, nilai ekspor produk kulit DIY mengalam penurunan pada Juni 2017. Pada Mei 2017 lalu, nilai ekspor komoditas kulit dari DIY mencapai 3,47 juta dolar. Sedangkan pada Juni 2017 turun 37,16% dengan nilai ekspor hanya 2,18 juta dolar.

Lowongan Pekerjaan
PT. MEGA KHARISMA PACKINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Seni Rupa Solo dan Melindurisme

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (5/8/2017). Esai ini karya Halim H.D., seorang networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Cara paling gampang untuk mengingat, apalagi dalam bentang sejarah, lihat saja jejak yang besar….