Gedung Serbaguna UIN Sunan Kalijaga yang diberikan nama Gedung Prof. HM. Amin Abdullah, Senin (7/8/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja) Gedung Serbaguna UIN Sunan Kalijaga yang diberikan nama Gedung Prof. HM. Amin Abdullah, Senin (7/8/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 8 Agustus 2017 03:22 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

KAMPUS JOGJA
Ayah Menag Jadi Nama Gedung Rektorat UIN

Kampus Jogja, UIN Sunan Kalijaga Jogja menggunakan nama tokoh untuk penamaan gedung

Harianjogja,com, SLEMAN – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja menggunakan sejumlah tokoh sebagai nama empat gedung di kampus tersebut. Keempat nama tersebut disesuaikan dengan kontribusi tokoh tersebut terhadap keilmuan dan perkembangan universitas Islam di Indonesia. Salahsatunya Prof. KH. Saifuddin Zuhri yang juga ayahanda Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin. Rencana, Menag meresmikan nama-nama gedung tersebut pada Selasa (8/8/2017).

Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogja Yudian Wahyudi menjelaskan lima tokoh tersebut antara lain, Prof. KH. Saifuddin Zuhri sebagai nama Gedung Pusat Administrasi Universitas (PAU) atau rektorat, Convention Hall diberikan nama Prof. RHA. Soenarjo. Kemudian gedung perpustakaan dinamai Gedung Prof. HA. Mukti Ali dan gedung serbaguna atau multipurpose dengan nama Gedung Prof. HM. Amin Abdullah.

Saifuddin Zuhri merupakan Menteri Agama yang diangkat pada 17 Februari 1962. Pada masa Soekarno, beliau menjabat sebagai Sekjen PBNU merangkap Pimred Harian Duta Masyarakat, anggota parlemen sementara dan anggota Dewan Pertimbangan Agung RI. Sebagai Menag pada Masa Kabinet Kerja III dan IV, Kabinet Dwikora I, Drikora II dan Kabiner Ampera I.

“Beliau memiliki andil besar dalam dunia pendidikan Islam. Saat beliau menjabat Menag, pendidikan Islam berkembang pesat, IAIN berkembang hingga sembilan propinsi,” ungkap Yudian, Senin (7/8/2017).

Pada masa perjuangan, ayahanda Menag RI ini merupakan Komandan Devisi Hizbullah Jawa Tengah bersama-sama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) turut dalam pertempuran Ambarawa. Ketika memimpin pergerakan Hizbullah, Saifuddin Zuhri kerap mendapat hadiah tanah sebagai ucapan terima kasih dari masyarakat, namun lahan itu tidak dimiliki secara pribadi melainkan dijadikan bangunan pesantren.

Yudian menambahkan, sedangkan Prof RHA Soenarjo merupakan Rektor IAIN Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Humumiyah sebagai cikal bakal dari UIN Suka dan UIN Sahid Jakarta. Pada masa pergerakan, Soenarjo menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda dan aktif sebagai pengacara yang membela para aktivis pergerakan, sekaligus menjadi penasehat panitia Kongres Pemuda II pada 1928 kemudian melahirkan Sumpah Pemuda.

“Saat Indonesia merdeka, beliau menjabat sebagai menteri luar negeri perios 1953 hingga 1955,” ungkap dia.

Kemudian penamaaan Mukti Ali untuk gedung perpustakaan dinilai cocok. Selama hidupnya, menjabat sebagai Menag hingga 1978 dan dikenal sebagai penggagas kerukunan antar umat beragama. Konsep itu berhasil menciptakan harmonisasi dalam kebhinekaan dari Sabang sampai Merauke. Selain itu Mukti Ali juga dikenal sebagai perintis Islam Liberal dengan pemikiran yang membuka lebar perkembangan Islam modern.
“Beliau juga dikenal sebagai pencetus Ilmu Perbandingan Agama, yang berusaha mengkomparasikan agam-agama untuk menemukan nilai universalitas yang sama dari semua agama,” imbuh dia.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Suka Waryono menambahkan, Prof. Amin Abdullah menjadi satu-satunya nama tokoh yang masih hidup dan dijadikan sebagai nama gedung serbaguna.  Ia menjabat sebagai Rektor UIN Suka dua periode pada 2002 hingga 2010, sekaligus yang memperjuangkan berubahnya IAIN menjadi UIN.

“Karya terbesarnya konsep keilmuan integrasi interkoneksi antara ilmu agama dan umum menjadi tidak dikotomi lagi, tetapi saling menyapa dan melengkapi,” ungkapnya. Saat ini Amin Abdullah juga menjadi anggota Parampara Praja yang juga penasehat Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…