Sri Abadi, pedagang bahan pangan di Pasar Kolombo hanya menjual garam halus di kiosnya, Senin (7/8/2017). Kelangkaan garam membuatnya tidak bisa menyedikan beragam jenis garam seperti biasanya. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Sri Abadi, pedagang bahan pangan di Pasar Kolombo hanya menjual garam halus di kiosnya, Senin (7/8/2017). Kelangkaan garam membuatnya tidak bisa menyedikan beragam jenis garam seperti biasanya. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 8 Agustus 2017 09:55 WIB Bernadheta Diasn Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Harga Garam Mahal Dianggap Fenomena langka

Harga garam masih tinggi

Solopos.com, JOGJA — Pedagang bahan pangan menganggap tingginya harga garam saat ini sebagai fenomena langka karena belum pernah terjadi sebelumnya. Setok garam yang menyusut membuat mereka harus rebutan untuk mendapatkannya.

Sri Abadi, pedagang di Pasar Kolombo, Sleman, mengatakan, kenaikan harga garam memang sudah terlihat pasca Lebaran 2017. Hanya saja, puncak kelangkaannya terjadi pada akhir Juli sampai saat ini.

“Sekarang langka, lihat garam itu seperti lihat apa aja. Dapat sih, itu saja rebutan,” katanya pada Harian Jogja, Senin (7/8).

Ia mengakui, harga kulakan garam saat ini sangat mahal. Jika dihitung, kenaikannya sampai dua kali lipat dibandingkan harga biasanya. Sri membeli garam halus di Pasar Beringharjo. Harga satu karton isi 40 kemasan yang biasanya hanya dijual Rp38.000 saat ini mencapai Rp90.000. Harga kulakan yang tinggi pun  membuatnya ikut menaikkan harga garam yang ia jual pada konsumen. “Sekarang saya jual Rp3.000 [per plastik]. Biasanya cuma Rp1.500,” ujarnya.

Kelangkaan garam di pasaran membuatnya kesulitan mendapatkan stok garam halus. Biasanya, ia bisa menyimpan tiga karton, tetapi saat ini hanya satu karton saja. Bahkan untuk garam bata, ia sama sekali tidak memiliki stok, padahal menurutnya permintaan garam bata merek Dang-Dut cukup tinggi. “Katanya [pedagang lain yang masih punya stok garam bata], sekarang [harga barang bata] Rp25.000, biasanya nggak sampai Rp15.000. Barangnya juga nggak ada, jadi saya nggak punya,” lanjutnya.

Menurut Sri, fenomena kelangkaan garam ini cukup langka. Masalah ini menurutnya serius karena komoditas garam tidak dapat disubstitusikan atau diganti dengan komoditas lain. “Kalau bawang larang [mahal], enggak pakai enggak masalah. Kalau garam? Yo enggak bisa. Kurang sedikit saja hambar je,” ungkapnya.

Sementara itu, harga bawang putih yang sempat melambung tinggi sampai Rp65.000 per kg saat ini berangsur turun. Sri menjual bawang kating dengan harga Rp32.000. Sementara bawang merah Rp25.000 per kg. Menurut Sri, komoditas yang menjadi sorotan pasar saat ini hanya garam karena komoditas lain cenderung stabil.

Sementara Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati mengatakan, harga daging sapi juga menjadi pantauan pemerintah. Saat ini, harga daging sapi bagian paha belakang dijual Rp120.000 per kg, has luar Rp118.333 per kg, has dalam Rp123.333 per kg, sandung lamur Rp91.667 per kg, dan tetelan Rp71.667 per kg. “Kalau daging ayam broiler Rp31.500 per kilogram dan daging ayam kampung Rp70.000,” katanya.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…