Dua mahasiswa Atmaja saat menerima medali emas dalam ajang taekwondo internasional. (Foto IST) Dua mahasiswa Atmaja saat menerima medali emas dalam ajang taekwondo internasional. (Foto IST)
Senin, 7 Agustus 2017 00:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

PRESTASI MAHASISWA
Persiapan Singkat, UAJY Persembahkan Emas di Taekwondo Internasional

Prestasi mahasiswa melalui bidang seni bela diri.

Solopos.com, SLEMAN – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berhasil memboyong medali emas dalam ajang 2017 Chungdokwan World Taekwondo Competition di Seongnam Gymnasium, Korea Selatan pada tanggal 21 – 24 Juli 2017. Medali itu dipersembahkan oleh dua delegasi yang dikirim UAJY. Antara lain, Alfonsus Edo Winardi, Mahasiswa Prodi Manajemen dan Yando Oktoriyanando dari Ilmu Komunikasi.

Edo menceritakan, ia melakukan persiapan tergolong singkat, hanya sekitar tiga pekan. Itu tak lain karena, undangan mengikuti kompetisi itu tergolong mendadak. Waktu tiga pekan itu dimanfaatkan dengan berlatih setiap setiap hari.

“Bahkan dalam sehari itu kami berlatih sampai dua kali latihan, karena sudah mepet,” terangnya dalam rilis kepada Solopos.com, Jumat (4/8/2017).

Di sisi lain, banyak kendala yang mendera timnya untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pada awalnya, timnya bersiap berangkat dengan jumlah enam atlet, namun karena berbagai pertimbangan, akhirnya hanya dua atlet saja yang berangkat yaitu Edo dan Yando. Berbekal kepercayaan diri, tanpa manajer, tanpa pelatih yang mendampingi, kedua mahasiswa itu mengangkat koper untuk bertarung di Korea Selatan.

“Semula jumlah atlet yang telah dipersiapkan enam orang, tetapi hanya kami berdua yang bisa berangkat, saya sebagai manajer sekaligus atlet,” ujar Edo.

Setibanya di Korea Selatan, keduanya sempat minder dengan kelengkapan para atlet dari berbagai belahan dunia. Apalagi dalam rangkaian kompetisi itu ada acara sparring dengan peserta lain dengan peserta dikhawatirkan membuat cedera yang dialaminya semakin parah. Meski demikian, melalui sambungan telepon, pelatihnya dari Indonesia memberikan semangat.

“Saya teringat kata-kata pelatih, bahwa jangan mau kalah dengan keadaan, saat itulah kami semakin bersemangat,” imbuhnya.

Selama bertarung dilakoni Edo dan Yando dengan mulus. Pada  kategori  Geup Poomsae Individual Senior I, Edo membuat tak berkutik atlet dari Hongkong, Jepang, Irlandia, Inggris, dan Portugal. Nasib serupa juga dialami Yando, pada kategori Geup Poomsae Individual Senior, Yando turut membekuk atlet dari Hongkong, Irlandia, Singapura, Swiss, dan Inggris. Segala proses dilalui dengan mulus hingga akhirnya memperoleh medali emas.

Satu medali emas yang diraih, bagi Edo dan Yando, bukan sekedar memenangkan kompetisi tersebut. Namun bagi mereka kemenangan itu sekaligus mampu mengalahkan keterbatasan. “Meski dengan kondisi seadanya, masih ada semangat yang bisa diandalkan,” tegas Yando.

Lowongan Pekerjaan
CV. TUNAS MERAPI SEJAHTERA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Anomali Ekonomi Indonesia

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Menarik mencermati kondisi perekonomian Indonesia selama tujuh bulan pada 2017 ini. Secara umum…