Pasangan Muhadi dan Katini menunjukkan ladang buah tin mereka di Desa Menang, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Kamis (3/8/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Pasangan Muhadi dan Katini menunjukkan ladang buah tin mereka di Desa Menang, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Kamis (3/8/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Senin, 7 Agustus 2017 15:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

PELUANG USAHA
Pasutri Ponorogo Menangguk Untung dari Budidaya Buah Tin

Peluang usaha, buah tin yang kerap disebut buah surga juga dibudidayakan di Ponorogo.

Solopos.com, PONOROGO — Tanaman tin tidak hanya bisa dimanfaatkan buahnya saja, tetapi daunnya juga bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi. Buah tin bisa dimakan, sedangkan daunnya bisa diseduh seperti teh.

Budidaya tanaman tin ini juga banyak dilakukan di Ponorogo. Salah satunya di perkebunan milik Muhadi dan Katini di Desa Menang, Kecamatan Jambon.

Muhadi menuturkan mulai mengenal tanaman tin sejak 2007 dan membudidayakannya sejak tahun 2011. Saat itu, ia mengenal tanaman asal Timur Tengah itu dari internet dan obrolan teman. Kemudian keyakinannya untuk mengembangkan tanaman ini semakin kuat setelah mengetahui manfaat buah tersebut.

Ia kemudian membeli satu bibit tanaman tin jenis green yordan dan bibit tanaman tin jenis martinenca rimada seharga Rp3 juta. Tanaman tersebut selanjutnya dirawat dan menjadi berkembang dan semakin banyak.

Setelah semakin besar, ia pun mencangkok tanaman tin tersebut dan dijual kembali dengan harga yang beraneka ragam mulai dari Rp25.000 hingga ratusan ribu rupiah per bibit.

“Perawatan tanaman tin ini susah susah gampang. Yang penting tercukupi sinar matahari. Untuk pencangkokan juga hanya butuh sekitar dua pekan sudah ada muncul akarnya,” jelas dia saat ditemui Madiunpos.com di rumahnya, Kamis (3/8/2017).

Muhadi menuturkan setelah budidaya tanaman tin ini berhasil, banyak tetangga yang juga mengikuti langkahnya yaitu menanam buah tin di halaman rumah mereka. Ia pun menjual bibit tanaman tin dengan berbagai jenis. Permintaan bibit tanaman tin mencapai 1.000 bibit per bulan dan distribusinya ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Istri Muhadi, Katini, menambahkan tidak hanya bibit tanamannya saja yang bisa dijual. Tetapi, daun tanaman tin juga bisa dijual untuk membuat minuman seduh seperti teh.

Permintaan daun tin ini juga sangat tinggi. Setiap bulan hanya bisa menyiapkan daun kering tin sebanyak 50 kg, padahal kebutuhannya mencapai 100 kg per bulan.

Daun tin ini juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti minuman seduh, kosmetik, sabun, dan bahan obat-obatan. Untuk daun tin ini selama ini permintaan paling banyak yaitu di Semarang dan Surabaya.

“Kalau untuk teh maupun kebutuhan industri, biasanya yang digunakan yaitu tin jenis green yordan. Kami sudah menyuplai daun tin kering ini sejak tiga tahun lalu,” ujar dia.

Menurut dia, bisnis budidaya tanaman tin ini sangat menarik dan masih terbuka luas bagi masyarakat. Pengembangan buah tin ini juga dianggap mudah. Saat ini dirinya telah memiliki ratusan tanaman tin dengan belasan jenis.

Selain itu, ia menyulap lahan persawahan untuk dijadikan kebun tanaman tin. Ini untuk memenuhi kebutuhan permintaan industri terhadap daun tin.

Meski demikian, Katini mengaku belum mengembangkan usahanya itu ke pemanfaatan buah tin. Hal ini karena untuk menunggu buah dibutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sekitar enam bulan hingga bisa dipanen.

“Bisnis ini masih terbuka lebar. Saya sering meminta tetangg untuk menyuplai kebutuhan daun kering, karena terkadang kebutuhan di kebun saya tidak mencukupi,” terang ibu satu anak ini.

PT. BPRS AL MABRUR KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Anomali Ekonomi Indonesia

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Menarik mencermati kondisi perekonomian Indonesia selama tujuh bulan pada 2017 ini. Secara umum…