Penti S mendirikan warung makan spesial Sop Janda di tepi jalan raya Desa Gagak Sipat, Ngemplak, Boyolali.(Aries Susanto/JIBI/Solopos) Penti S mendirikan warung makan spesial Sop Janda di tepi jalan raya Desa Gagak Sipat, Ngemplak, Boyolali.(Aries Susanto/JIBI/Solopos)
Senin, 7 Agustus 2017 21:00 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

KULINER BOYOLALI
Sop Janda Gagaksipat Bikin Gemes & Ketagihan Pembeli

Kuliner Boyolali yang satu ini layak dicoba. Bukan karena namanya, tapi rasanya yang bikin ketagihan.

Solopos.com, BOYOLALI —  Ada seribu jalan menuju Roma. Nasihat ini nampaknya benar-benar diamalkan oleh ibu muda asal Kota Kembang Bandung, Penti S. Dengan bekal kepiawainnya memasak sop, ibu tiga anak ini memberanikan diri meretas jalan untuk menjemput rezeki di Boyolali.

Dia pun akhirnya membuka warung makan di tepi jalan raya Desa Gagaksipat, Ngemplak, Boyolali. “Warung makan ini resmi saya buka empat bulan lalu. Alhamdulillah, para pelanggannya bertambah terus,” ujar Penti saat berbincang dengan Solopos.com di warungnya, Minggu (6/8/2017).

Warung makan milik ibu muda ini memang terasa lain dari warung lainnya. Bukan saja ragam jenis sop yang dijualnya, melainkan nama warung makannya juga cukup unik serta menggoda pembeli, yakni “Sop Janda”.

Strategi marketing yang dilakukan Penti ini rupanya cukup ampuh. Tak sedikit pengguna jalan tergoda dan klepek-klepek dengan Sop Janda itu. Mereka rata-rata kembali lagi untuk menyantap Sop Janda. Penti menyebutkan, sehari tak kurang 15 kg daging ayam habis untuk memenuhi konsumen Sop Janda.

“Rata-rata, calon pembeli begitu masuk dan menyantap sop, langsung bertanya kepada saya, ‘Ibu ini ya yang janda?” kata Penti menirukan pertanyaan para pembeli.

Tentu saja, pertanyaan para pembeli Sop Janda itu diladeni Penti dengan ramah. Setelah menerima penjelasan, pembeli pun tersenyum dan jadi cair suasana.

“Sop Janda itu kan kepanjangan dari Sop Jawa Sunda. Maksudnya, sop bikinan saya ini perpaduan rasa Sop Jawa dan Sop Sunda. Jadi, bukan saya yang janda,” ujarnya tersenyum.

Lantas bagaimanakah rasanya? Solopos.com yang diberi kesempatan mengincipi Sop Janda, langsung memberikan acungan jempol. Aroma bumbu rempah-rempah sangat terasa sekali.

“Sop Janda ini sekelas dengan Sop AyamPak Min asli Klaten. Rasanya bisa taruhan,” puji salah satu pembeli asal Donohudan, Sumitro.

Suami Penti yang menemani berjualan, Mulato, mengatakan pemberian nama Sop Janda itu memang sempat membuatnya waswas.

Ia memaklumi konotasi kata Janda yang bermakna miring di masyarakat. Namun, setelah berpikir lama, akhirnya ia memberanikan diri memasang tulisan Sop Janda di tepi jalan.

“Dulu ada banyak banner yang kami pasang di tepi jalan, tapi sekarang sudah banyak yang hilang,” paparnya.

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…