Anggota staf Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat (KPID Jabar) memantau tayangan sejumlah stasiun televisi di kantor institusi itu di Bandung, Jawa Barat, Selasa (30/12/2014). Dalam pantauan KPID Jabar selama kurun 2014, tayangan tidak sehat untuk publik tahun ini lebih tinggi daripada tahun 2013 lalu. Pada umumnya, tayangan tersebut berisi kekerasan dan seksualitas. (JIBI/Solopos/Antara/Agus Bebeng) Aktivitas Komisi Penyiaran Indonesia Daerah, Selasa (30/12/2014). (JIBI/Solopos/Antara/Agus Bebeng)
Senin, 7 Agustus 2017 03:00 WIB JIBI/Solopos/Newswire Peristiwa Share :

KPI Kritik TV Minim Acara Anak

Acara TV Indonesia dinilai minim untuk anak.

Solopos.com, PADANG — Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengkritik minimnya acara anak di televisi. Lembaga itu mendorong manajemen media penyiaran televisi memperbanyak konten anak-anak. Hal itu disampaikan Ketua KPI Yuliandre Darwis dalam seminar parenting dengan tema Keselarasan Pola Asuh antara Keluarga, Satuan Pendidikan, dan Masyarakat dalam Membentuk Karakter Anak di Padang, Sumatra Barat, Sabtu (5/8/2017).

“Beberapa tahun terakhir siaran untuk anak-anak minim sekali. Kami sudah membicarakan kondisi itu dengan pihak terkait, termasuk pertelevisian nasional,” kata Yuliandre seperti dilansir Antara, Sabtu.

Menurutnya, secara umum siaran untuk anak-anak belum memenuhi kata cukup. Anak-anak kekurangan tayangan yang cocok untuk umur mereka. Apabila anak-anak menonton siaran yang tidak pantas untuk mereka jelas akan berdampak pada perilaku. Sebut saja menonton gosip pada pagi hari akan berdampak pada perilakunya ketika sudah besar.

“Saat ini ada televisi nasional yang mulai memproduksi konten animasi dan ini harus kita dukung terus,” jelas dia.

Ia meminta ketika memproduksi tayangan untuk anak-anak, unsur-unsur adat dan budaya di Indonesia dimasukkan. Tujuannya mereka yang menonton dapat menyerap dan mengingat pesan yang terkandung dalam tontonan. “Anak-anak Indonesia butuh tontonan yang mendidik, berkarakter, dan berbudaya,” lanjutnya.

Selain itu, konten anak-anak dari luar negeri seperti animasi Upin dan Ipin yang merupakan salah satu tontonan yang tepat bagi anak usia dini telah menghiasi layar kaca sejak beberapa tahun terakhir. “Menurut aturan penyiaran Indonesia, 40 persen tayangan boleh diisi oleh konten luar negeri, namun harus sesuai prosedur,” ujar dia.

Yuliandre juga mengingatkan orang tua agar mengontrol anak-anak mereka ketika menonton televisi. “Jangan sampai anak menonton tayangan yang akan berdampak pada perilaku mereka,” tambah dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Harris Iskandar mengatakan orang tua merupakan benteng utama untuk menjadikan seorang anak memiliki karakter. “Kontrol orang tua adalah benteng utama dari pengaruh lingkungan negatif,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…