Api membakar hutan di kawasan Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur, Senin (26/10/2015) dini hari. (JIBI/Solopos/Antara/Siswowidodo) Api membakar hutan di kawasan Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur, Senin (26/10/2015) dini hari. (JIBI/Solopos/Antara/Siswowidodo)
Senin, 7 Agustus 2017 06:35 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

KEBAKARAN KARANGANYAR
Perhutani Waspadai Titik Api di Pos 1 dan 2 Cemoro Kandang

Perum Perhutani mewaspadai pos 1 dan 2 jalur pendakian Cemoro Kandang, Karanganyar.

Solopos.com, KARANGANYAR — Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Solo mewaspadai titik api di pos 1 dan 2 jalur pendakian Cemoro Kandang, Lawu, Karanganyar.

Hal itu disampaikan Kepala KPH Perum Perhutani Solo, Eka M. Ruskanda, saat ditanya tentang lokasi rawan kebakaran di hutan Gunung Lawu saat musim kemarau. Eka menyampaikan fire hotspot (titik api) berada di jalur pendakian Cemoro Kandang.

“Berkaca pada 2015 saat terjadi kebakaran, saya dan rekan-rekan juga naik. Kami cek langsung. Pos 1 sampai pos 2 jalur pendakian Cemoro Kandang itu rawan. Kalau pendakian lewat Ceto enggak terlalu mengkhawatirkan,” kata Eka saat dihubungi Solopos.com, Minggu (6/8/2017).

Eka menceritakan Perum Perhutani KPH Solo melakukan tiga aksi mengantisipasi kebakaran hutan di Gunung Lawu pada musim kemarau. Tiga kegiatan itu adalah apel siaga di Lapangan Sekipan, Tawangmangu, pemasangan papan pengumuman, dan larangan di sepanjang jalur pendakian, dan penyuluhan kepada lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) dan tenaga penyuluh di Wonogiri.

“Kami melibatkan stakeholders terkait di Karanganyar, Wonogiri, dan DIY. Pemasangan papan pengumuman dan larangan itu menggandeng mahasiswa pencinta alam dari universitas di DIY. Kalau penyuluhan itu bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” jelas dia.

Selain tiga kegiatan itu, Eka menyampaikan Perum Perhutani KPH Solo menggandeng sukarelawan setempat. Dia menyebut sukarelawan Anak Gunung Lawu (AGL) untuk mengawasi jalur pendakian di Cemoro Kandang.

“Itu jelas dan pasti [kerja sama dengan AGL]. Selain petugas kami yang patroli dan pantau kondisi di lapangan. Kami wajibkan petugas jaga kami lapor kondisi dua kali sehari. Ada petugas piket juga,” tutur dia.

Eka juga mengingatkan pendaki agar mematuhi aturan dan memperhatikan etika mendaki gunung. Dia berharap seluruh pendaki melakukan tindakan bijak.

“Peringatan standar lah bagi pendaki. Jangan bikin perapian. Jangan buang putung rokok sembarangan dan lain-lain. Intinya jangan memicu api.”

 

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…