Suasana pasar hewan Imogiri, Bantul, Senin (25/7/2016). Harga hewan ternak di Pasar Hewan Bantul seperti sapi dan kambing sudah mulai mengalami kenaikan menjelang Iduladha. (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja) Suasana pasar hewan Imogiri, Bantul, Senin (25/7/2016). Harga hewan ternak di Pasar Hewan Bantul seperti sapi dan kambing sudah mulai mengalami kenaikan menjelang Iduladha. (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 7 Agustus 2017 18:20 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

IDULADHA 2017
Bantul Masih Kekurangan Sapi Kurban

Bantul masih kekurangan sapi pejantan yang akan dijadikan kurban pada hari raya Iduladha

Solopos.com, BANTUL– Bantul masih kekurangan sapi pejantan yang akan dijadikan kurban pada hari raya Idul Adha, September mendatang. Pemenuhan sapi kurban masih mengandalkan pasokan dari luar daerah.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi mengatakan, keberadaan sapi pejantan yang layak digunakan untuk kebutuhan kurban di Bantul masih belum mencukupi.

Ia mencontohkan rasio kebutuhan sapi kurban di wilayah ini setiap tahunnya. “Misalnya dari kebutuhan 25 ekor sapi kurban, kita baru bisa memenuhi 10 ekor sapi kurban,” terang Pulung Haryadi pekan lalu.

Pulung menyebut, total populasi sapi pejantan di Bantul sedianya berjumlah sekitar 10.000 hingga 20.000 ekor. Sementara kebutuhan sapi kurban setiap tahun hanya sekitar 4.000 ekor, sementara kambing kurban sebanyak 5.000 ekor.

Seharusnya, jumlah populasi sapi pejantan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sapi kurban. Namun kata dia, tidak semua sapi pejantan di Bantul dijadikan kurban. Sejumlah kondisi menyebabkan tidak semua sapi pejantan dijadikan kurban.

Misalnya sebagian sapi tersebut hanya dijadikan hewan klangenan atau dipelihara hanya untuk kesenangan, sapi belum layak potong serta ternak dijual ke luar daerah dengan harga lebih menguntungkan. “Alhasil setiap tahun kita masih kekurangan sapi untuk kurban,” tambahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sapi kurban tersebut, para pedagang terpaksa mendatangkan ternak dari luar daerah misalnya dari Temanggung dan Wonogiri, Jawa Tengah atau dari Wonosari, Gunungkidul.

Sedangkan terkait sapi betina, jumlah populasinya diklaim mencapai 18.000 hingga 22.000 ekor. Namun sesuai aturan syariat, sapi betina tidak boleh digunakan untuk kurban. Saat ini kata Pulung, jumlah sapi betina di Bantul melebihi sapi pejantan. Bahkan jumlah sapi betina yang telah diinseminasi untuk meningkatkan produksi sapi telah mencapai 18.000 ekor atau melebihi target nasional.

Terpisah, Ketua Pengusaha Paguyuban Daging Sapi Segoroyoso (PPDSS) Pleret, Bantul Ilham Akhmadi membenarkan, minimnya sapi pejantan untuk kurban di Bantul. Bahkan kata dia, kekurangannya mencapai hingga 50% atau separuh dari kebutuhan.

Para pedagang kata dia mendatangkan sapi kurban tak hanya dari Jawa Tengah namun hingga ke Madura, Jawa Timur. ”Karena yang siap atau layak potong itu tidak banyak. Yang ada sapi bakalan yang masih harus dibesarkan. Kalau sapi bakalan ikut dipotong nanti habis populasi sapi kita,” papar Ilham Akhmadi.

Lowongan Pekerjaan
PT. GITA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
”Despacito” dan Nasib Lagu Sejenis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Damar Sri Prakoso, Program Director Radio Solopos FM. Alamat e-mail penulis adalah damar.prakoso@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melarang pemutaran lagu Despacito di lembaga penyiaran publik…