Kondisi SPBU di Pantai Ngrenehan, Saptosari terlihat tak terawat dan mangkrak. Dampak tak beroperasinya SPBU itu membuat nelayan harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk mendapatkan BBM. Sabtu (18/1/2015). (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan) Kondisi SPBU di Pantai Ngrenehan, Saptosari terlihat tak terawat dan mangkrak. Dampak tak beroperasinya SPBU itu membuat nelayan harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk mendapatkan BBM. Sabtu (18/1/2015). (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan)
Senin, 7 Agustus 2017 16:58 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Harga Pertalite di Pesisir Tembus Rp11.000 per Liter, Nelayan Mengeluh

Tidak adanya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan pesisir membuat harga eceran bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite melonjak

 
Solopos.com, GUNUNGKIDUL —Tidak adanya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan pesisir membuat harga eceran bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite melonjak. Untuk berlayar nelayan harus membeli pertalite Rp11.000 per liter.

Salah seorang nelayan asal Dusun Sawahan, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Samto mengatakan melonjaknya harga pertalite sudah terjadi sejak sebulan terakhir. Harga pertalite yang ditetapkan pemerintah yakni Rp8.500 per liter telah melonjak tinggi ditingkat pengecer mencapai Rp11.000 per liter.

Menurutnya hal itu terjadi lantaran tidak adanya SPBU di wilayah pesisir, yang dapat dijangkau langsung oleh nelayan. “Kalau ada SPBU di kawasan pesisir, pasti harga pertalite bisa terjangkau dan tidak semahal sekarang,” ungkapnya, Minggu (6/8/2017).

Bersama dengan sekitar 100 rekannya sesama nelayan di Pantai Ngrenehan, Kecamatan Saptosari, untuk pergi melaut harus merogoh koceknya lebih dalam. Pasalnya untuk sekali melaut rata-rata BBM jenis pertalite yang dibutuhkan sekitar 10 hingga 15 liter. Atau minimal mereka membutuhkan Rp110.000 untuk membeli BBM dalam sekali melaut.

Biaya yang terlalu tinggi untuk operasional yang tinggi tersebut semakin mempersulit mereka untuk mencari penghasilan di tengah gelombang laut yang sering tidak bersahabat. Hal itu kemudian membuat sejumlah nelayan memilih untuk tidak melaut untuk sementara waktu. “Dari sekitar  50 kapal [jukung], hanya sekitar 30 kapal saja yang melaut,” kata dia.

Samto berharap, kesulitan nelayan mendapatkan perhatian dari pemerintah melalui instansi terkait. Ketersediaan BBM dengan harga terjangkau tentu sangat dirindukan sehingga kedepan tingkat ekonomi nelayan menjadi lebih baik.

“Namun kami sadar, setiap pekerjaan selalu ada resiko. Hanya saja sangat disesalkan, resiko merugi kami berasal dari mahalnya bahan bakar,” ujarnya.

Lowongan Pekerjaan
CITRA JAYA SEWING MACHINE, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
”Despacito” dan Nasib Lagu Sejenis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Damar Sri Prakoso, Program Director Radio Solopos FM. Alamat e-mail penulis adalah damar.prakoso@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melarang pemutaran lagu Despacito di lembaga penyiaran publik…