Pekerja mengemas gelang tanda pengenal untuk calon haji di Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, Minggu (30/7/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Pekerja mengemas gelang tanda pengenal untuk calon haji di Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, Minggu (30/7/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Senin, 7 Agustus 2017 08:35 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Solo Share :

HAJI 2017
Rumit, Begini Proses Pembuatan Gelang Haji di Asrama Haji Donohudan

Haji 2017, proses pembuatan gelang identitas haji ternyata rumit.

Solopos.com, BOYOLALI — Di sebuah ruangan yang terlalu luas itu, tepatnya di lantai II Gedung Mekah Asrama Haji Donohudan (AHD), ribuan gelang haji itu tercetak.

Setiap harinya, tak kurang 1.440 biji gelang diproduksi. Gelang itu bukan sembarang gelang, melainkan gelang identitas yang kualitasnya sebanding benda antikarat hingga 100 tahun meski dalam kondisi tertimbun tanah.

“Menurut penelitian, gelang haji ini tak akan karatan meski ditimbun tanah 100 tahun. Terbakar api pun tak akan meleleh,” ujar Nur Rohim, 41, pembuat gelang haji Indonesia saat berbincang dengan Solopos.com di AHD, Boyolali, Minggu (6/8/2017).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini Rohim kembali menerima orderan serupa, yakni membikin gelang-gelang haji. Jika tahun sebelumnya ia memiliki lima anak buah, musim haji tahun ini ia membawa enam anak buah.

“Soalnya kloternya tambah hampir 10.000 orang. Jadi, kami juga tambah orang lagi,” ujarnya.

Sebenarnya proses pembuatan gelang, kata Rohim, sudah dilakukan tiga hingga empat bulan sebelumnya. Rohim dan rekan-rekannya hanya tinggal memberikan identitas di gelang berbahan dasar logam setebal 1,5 milimeter itu.

Akan tetapi, kata dia, justru hal itulah yang tersulit dan memakan waktu lama. Fase itu harus ada proses pencantuman nama calhaj, pemberian nomor paspor, serta kloter.

Apalagi, data itu tidak bisa dibuat sembarangan karena jika salah akan berakibat fatal, terutama saat jemaah mengalami kesulitan di Tanah Suci.

“Setelah lembaran pelat kami potong-potong jadi gelang-gelang, kami membawa ke sini. Nah, yang lama dan rumit itu memberikan identitas gelang sambil menunggu data dari PPIH. Setelah beres semua, baru kami cetak. Tapi, kalau ada kesalahan atau jemaah pindah kloter ya harus direvisi lagi,” ujar koordinator pembuat gelang haji asal CV Al Karimah Jepara itu.

Meski demikian, Rohim mengaku belum menemui kesulitan selama sepekan lebih ini. Mutasi calhaj musim ini relatif lebih sedikit dibandingkan dua tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah enggak ada hambatan berarti. Jika semua data tak ada yang revisi atau tak ada mutasi banyak, ya semua bisa kami selesaikan dengan target,” jelasnya.

Kasubbag Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Bandara Adi Soemarno Solo, Badrus Salam, mengatakan fungsi gelang haji sangat vital. Salah satunya sebagai penanda jika terjadi keadaan yang tak diharapkan, seperti musibah kebakaran, tersesat, atau meninggal tanpa diketahui petugas.

“Itulah sebabnya, gelang haji itu tak boleh dilepas sebelum tiba di Tanah Air,” ujarnya.

Seperti diketahui, di gelang haji terdapat sejumlah identitas, yakni nama orang, nomor paspor, kode kloter, serta asal calon jemaah haji. Di sana juga terdapat gambar lambang negara berupa Garuda Pancasila yang dicetak timbul dan tak bisa dihapus.

Gelang haji terbuat dari logam yang cukup tebal, yakni 1,5 milimeter. Benda ini terdiri dari campuran nikel 67 persen, tembaga 30 persen dan leburan besi ditambah sulfur. Kelebihan dari bahan tersebut adalah tidak akan terjadi korosi serta tidak menimbulkan iritasi pada kulit.

 

lowongan pekerjaan
Carmesha Music School, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…