Ilustrasi kekeringan di Soloraya (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos) Ilustrasi kekeringan di Soloraya (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Senin, 7 Agustus 2017 12:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

BENCANA JATENG
1.314 Desa Terancam Kekeringan

Bencana kekeringan mengancam 1.314 desa di Jawa Tengah (Jateng).

Solopos.com, SEMARANG – Sebanyak 1.314 desa di Jawa Tengah (Jateng) terancam mengalami bencana kekeringan. Kondisi itu pun membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mengeluarkan status siaga darurat kekeringan.

“Siaga darurat kekeringan memang sudah kami keluarkan. Status itu kami keluarkan berdasarkan rekomendasi BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika] karena musim kekeringan diprediksi mulai awal Juli-akhir Oktober ini,” ujar Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Sarwa Pramana, saat dijumpai Semarangpos.com di ruang kerjanya, Jumat (4/8/2017).

Sarwa menambahkan 1.314 desa yang terancam bencana kekeringan itu berada di 219 kecamatan di 27 kabupaten/kota di Jateng. Kabupaten yang diprediksi mengalami kekeringan paling banyak berada di Blora dan Grobogan, dengann jumlah 160 desa dan 116 desa.

“Meski demikian, jumlah itu baru sebatas prediksi dari kami. Realisasinya, berdasarkan permintaan droping air bersih untuk saat ini justru yang paling banyak ada di wilayah Banyumas, dengan jumlah 41 tangki air di delapan desa,” terang Sarwa.

Sarwa menyebutkan untuk menanggulangi bencana kekeringan ini, BPBD Jateng pun telah menyiapkan ratusan tangki air yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Jateng. Setiap kabupaten/kota diberikan stok 2-3 tangki yang berisi 200 liter air bersih per tangkinya. Sementara, untuk wilayah Jateng, BPBD menyiapkan sekitar 20 tangki.

“Begitu tangki di tiap kabupaten/kota itu habis kami akan langsung menyuplainya. Jadi, enggak perlu khawatir dengan bencana kekeringan itu,” ujar Sarwa.

Sarwa menambahkan, bencana kekeringan terjadi selama musim kemarau yang diprediksi terjadi pada awal Juli hingga akhir Oktober nanti. Selain kekeringan, selama musim kemarau masyarakat perlu mewaspadai adanya bencana kebakaran hutan.

“Bencana kebakaran itu lebih banyak disebabkan human errors. Jadi kami mengimbau masyarakat untuk selalu mewaspadai bencana kebakaran, salah satunya dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama saat di hutan atau membakar alang-alang agar lahan pertaniannya mudah dicangkuli,” imbuh Sarwa.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…