Retno Tan (tengah) bersama para model saat fashion show Pelangi Samudera di panggung Feeric Fashion Week, Sibiu, Romania, pertengahan Juli lalu. (Istimewa/Retno Tan/Instagram) Retno Tan (tengah) bersama para model saat fashion show Pelangi Samudera di panggung Feeric Fashion Week, Sibiu, Rumania, pertengahan Juli lalu. (Istimewa/Retno Tan/Instagram)
Senin, 7 Agustus 2017 14:48 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Issue Share :

Begini Cara Seniman Tunjukkan Kepedulian Lingkungan Lewat Karya

Para seniman memiliki cara tersendiri menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu sekitar seperti lingkungan, sosial, budaya dan sebagainya.

Solopos.com, SOLO–Desainer Solo, Retno Tan, tersenyum haru saat tepuk tangan meriah terdengar riuh menyusul selesainya fashion show Pelangi Samudera di panggung Feeric Fashion Week, Sibiu, Rumania, pertengahan Juli lalu. Beberapa penonton bahkan mengaku tertarik datang ke Indonesia setelah melihat 12 rancangannya di panggung fashion show bergengsi tersebut. Mereka penasaran seberapa bagus Indonesia sehingga Retno mampu memvisualisasikannya menjadi karya seni yang menarik.

“Rasanya pas tahu orang jadi penasaran dengan Indonesia hanya dari melihat karya saya, seneng banget. Seneng campur enggak percaya. Ternyata saya juga bisa membawa nama Indonesia meski tidak melulu lewat simbol budaya,” ceritanya saat diwawancara solopos.com, Kamis (3/8/2017).

Mengangkat tema tentang keindahan terumbu karang laut Indonesia, Retno membawa 12 kreasi busana artistik. Tak sekadar busana yang unik, ia juga mengandalkan rias wajah yang penuh warna. Karya masterpiece mantan penari ballroom dance ini 75% dirancang dari daur ulang sampah anorganik seperti spon bra, senar bekas, sedotan, dan plastik. Barang-barang tak terpakai tersebut ia aplikasikan ke dalam beberapa dress dengan siluet simple, feminin, dan fresh.

Tanggung Jawab

Tak sekadar rancangan busana, Pelangi Samudera merupakan kemasan karya kontemporer multidisiplin fashion design, dance, seni dan olahraga. Yang berangkat dari permasalahan limbah dan pencemaran lingkungan laut, khususnya tentang coral di Indonesia. Ia berharap karya ini mampu menumbuhkan kembali kesadaran generasi muda untuk keep our world sustainable dengan kegiatan kreatif yang positif.

“Tuhan telah menganugrahkan Keindahan dan merancang semesta beserta isinya, termasuk manusia, dengan sempurna, kitalah yang harus bertanggung jawab atas kelestariannya,” tambahnya.

Mugiyono Kasido, Minggu (6/8/2017), di bawah Mugi Dance studio juga pernah menggarap karya berbahan dasar sampah plastik yang ia kreasikan dalam kostum tari serta wayang.

Pada 2015 lalu ia menginisiasi festival hujan dengan mendatangkan sejumlah seniman mancanegara. Acara diisi pentas tari, musik, puisi, dan workshop pembuatan kompos. Hal tersebut, menurut Mugi sebagai bukti kesenian tak sekadar tujuan hiburan.

Lebih dari itu, seniman juga memiliki tanggung jawab menumbuhkan kepedulian sosial. Ia mengistilahkan seni mengajak kesadaran manusia menjadi manusia. “Tak hanya isu lingkungan. Sosial, politik, dan isu lain juga untuk membangun kembali kesadaran manusia menjadi manusia,” kata Mugi saat dihubungi, Minggu.

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…