Bandara I Gusti Ngurah Rai menjadi gerbang utama bagi perkembangan sektor pariwisata di Bali. Foto diambil pada 26 Juli 2017. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Bandara I Gusti Ngurah Rai menjadi gerbang utama bagi perkembangan sektor pariwisata di Bali. Foto diambil pada 26 Juli 2017. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Senin, 7 Agustus 2017 16:20 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Bandara Kulonprogo Diharapkan Angkat Potensi Wisata

Bandara Kulonprogo diiharapkan seperti Bandara I Gusti Ngurah Rai yang menjadi gerbang utama bagi perkembangan sektor pariwisata di Bali

Solopos.com, BALI-Bandara I Gusti Ngurah Rai menjadi gerbang utama bagi perkembangan sektor pariwisata di Bali. Hal itu diproyeksikan juga berlaku bagi New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang segera dibangun di wilayah Temon, Kulonprogo, DIY.

Sekitar 20 juta orang penumpang tercatat keluar-masuk Bandara I Gusti Ngurah Rai pada 2016 lalu. Jumlah penumpang per hari rata-rata mencapai 54.000 orang dan berasal dari setidaknya 380 penerbangan.

Angka itu merupakan capaian untuk pelayanan penerbangan internasional dengan 36 jenis tujuan dan 23 tujuan penerbangan domestik yang didukung sembilan maskapai dalam negeri dan 28 maskapai asing.

Co General Manager Commercial Bandara I Gusti Ngurah Rai, Rahadian Dewanto Yogisworo mengatakan, pengelolaan bandara membutuhkan dukungan dari golden triangle. Segi tiga emas yang dia maksud adalah sinergitas antara airline atau maskapai penerbangan, airport atau bandara itu sendiri, dan pemerintah daerah.

“Menarik airline agar mau masuk itu tidak mudah karena kita bersaing dengan yang lain, seperti Singapura dan Kuala Lumpur,” kata Yogi saat mendampingi rombongan Orientasi Publik Kebijakan Pemkab Kulonprogo di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, 26 Juli 2017 lalu.

Menurut Yogi, daya tarik wisata mampu menjadi magnet bagi maskapai penerbangan internasional. Pemerintah daerah di sekitar lokasi bandara sudah semestinya mengambil peluang itu dengan mengembangkan segala potensi yang dimiliki.

Bukan hanya menyajikan wisata yang menarik, tetapi juga menyiapkan kompetensi sumber daya manusia serta infrastruktur fisik untuk meningkatkan aksesibilitas daerah.

Yogi lalu menilai jika NYIA bakal mengemban tugas yang sama seperti Bandara I Gusti Ngurah Rai, yaitu sebagai gerbang utama pariwisata. Ratusan burung besi akan menurunkan banyak penumpang setiap hari yang kemudian melanjutkan perjalanan atau melancong ke obyek wisata di wilayah Jogja dan sekitarnya.

Kulonprogo jelas tidak bisa membiarkan begitu saja peluang itu. Banyak potensi alam serta seni dan budaya yang bisa dikembangkan secara profesional sehingga membuat wisatawan merasa terlalu sayang untuk melewatkannya.

Sesuatu yang sederhana bisa jadi justru lebih menarik, seperti luasnya hamparan sawah atau perkebunan kopi. “Kulonprogo harus membuat tempat-tempat wisata yang menarik dan mendapatkan keuntungan dari sana,” ujar Yogi.

General Manager PT Angkasa Pura I Bandara I Gusti Ngurah Rai, Yanus Suprayogi pun mengatakan keberadaan bandara di suatu wilayah memiliki dampak yang besar. Bukan melulu soal kontribusi apa yang bisa diberikan bandara secara langsung, melainkan juga bagaimana pemerintah dan masyarakat sekitar bisa memanfaatkan fasilitas transportasi itu.

Selain mengangkat potensi wisata, sumber daya manusia di sekitar area bandara tentu juga diharapkan bisa tertampung. Suprayogi kemudian mengapresiasi upaya Pemkab Kulonprogo dalam memberikan pendidikan dan pelatihan khusus bagi warga terdampak.

Mereka diharapkan tidak hanya mampu menangani pekerjaan kasar, tetapi juga mumpuni dalam urusan manajerial. “Jadi bagaimana agar adanya bandara ini [NYIA] bisa meningkatkan perekonomian di sana [Kulonprogo],” ucap dia.

Rombongan Orientasi Publik Kebijakan Publik Pemkab Kulonprogo dipimpin Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo. Usai melakukan diskusi bersama jajaran pimpinan Bandara I Gusti Ngurah Rai, rombongan diantar untuk berkeliling dan mengamati berbagai fasilitas maupun aktivitas pelayanan di bandara yang dibangun sejak 1930 itu.

Sutedjo mengungkapkan, Kulonprogo sudah mulai berbenah untuk mengoptimalkan potensi wisata lokal. Dia juga mendukung banyaknya kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang terdorong mengembangkan obyek wisata baru, khususnya di wilayah perbukitan menoreh.

Di sisi lain, pemerintah berupaya menyiapkan infrastruktur fisik yang lebih memadai melalui pogram bedah menoreh. Pembangunan jalan yang telah berjalan selama dua tahun itu bertujuan mempermudah akses wisata Kulonprogo bagian utara. Progam itu juga ditujukan untuk menghubungkan NYIA di Temon dengan Magelang, Jawa Tengah sehingga bisa mendukung pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur.

Panjang jalan yang menjadi sasaran bedah menoreh mencapai sekitar 63 kilometer. Sutedjo berpendapat, jalur bedah menoreh memberikan nilai tambah bagi obyek wisata yang berkembang di sekitarnya. Selain wisata alam berupa curug, bukit, dan gua, ada pula perkebunan teh, kopi, cengkeh, dan durian yang bisa dioptimalkan sebagai agrowisata.

Sutedjo pun sepakat jika keberadaan bandara harus bisa memberikan keuntungan bagi masyarakat. “Kami tidak ingin bandara yang ada nanti hanya menjadi menara gading bagi Kulonprogo. Itu harus memberi manfaat sebanyak mungkin bagi rakyat,” ungkap Sutedjo.

Lowongan Pekerjaan
PT. KELOLA JASA ARTHA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Anomali Ekonomi Indonesia

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Menarik mencermati kondisi perekonomian Indonesia selama tujuh bulan pada 2017 ini. Secara umum…