Puncak Gunung Cumbri di Desa Biting, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri. (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Puncak Gunung Cumbri di Desa Biting, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri. (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Senin, 7 Agustus 2017 13:15 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

ASAL USUL
Legenda Cinta Sejati di Balik Nama Gunung Cumbri Wonogiri

Asal usul Gunung Cumbri diliputi kisah seputar cinta sejati.

Solopos.com, WONOGIRI — Gunung Cumbri yang terletak di Desa Biting, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri, tidak asing bagi masyarakat Wonogiri, khususnya kawula muda. Untuk mencapai objek wisata tersebut, terdapat empat jalur pendakian yang bisa dilalui dari jalur Temon (Ponorogo), Kepyar (Wonogiri), dan dua jalur lainnya dari Biting.

Meski Gunung Cumbri sudah ngehits di kalangan remaja, tetapi kisah cinta di balik nama gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu tak diketahui banyak orang. Tetapi bagi tokoh masyarakat sekitar Gunung Cumbri turun temurun memercayai kisah cinta burung beri sebagai cikal bakal nama gunung bertinggi 638 mdpl itu.

Kepala Desa Biting, Masmianto, ketika berbincang dengan solopos.com, beberapa waktu lalu, menceritakan cumbri berasal dari dua kata cok dan bri. Kata cok tersebut singkatan dari pencokan (tempat bertengger/ singgah). Sedangkan kata bri merujuk pada manuk beri yang digambarkan oleh warga sekitar sebagai burung garuda.

Menurut Masmianto, berdasarkan cerita turun temurun warga sekitar yang mayoritas bekerja sebagai petani mengalami masa sulit ketika serangan hama tikus merajalela. Pasukan tikus itu dipimpin oleh raja tikus bernama tikus jinodo.

Para petani mengalami masa paceklik karena gagal panen. Mereka sedih dan gelisah, tak mampu berbuat banyak karena ulah tikus jinodo dan pasukannya. Tak hanya petani yang sedih mengalami keadaan tersebut, kerbau milik para petani juga turut sedih.

Melihat hal tersebut, lanjut Masmianto, manuk beri yang tinggal tidak jauh dari desa itu merasa kasihan. Manuk beri ingin menolong para petani untuk membasmi tikus jinodo dan pasukannya. Ketika manuk beri melihat tikus jinodo di sawah, maka dia langsung menghujam ke tanah hendak menyambar si raja tikus itu.

Namun, tikus jinodo berlari dengan gesit di dekat petani yang membajak sawah dengan kerbau. Celakanya, bukan raja tikus itu yang disambar oleh manuk beri melainkan petani dan kerbau. “Karena kecerdikan tikus jinodo, akhirnya petani dan dua kerbaunya justru tertelan oleh manuk beri itu,” ujar Masmianto.

Menyadari kesalahannya, manuk beri tersebut merenung dan bertengger di pring petung yang merupakan sarang keluarganya. Saat manuk beri lengah, tikus jinodo menyerang burung tersebut dengan menggigit sayapnya sehingga tidak bisa terbang lagi.

“Saat itu, dia sedang melindungi pasangannya yang sedang mengerami telur. Kedua burung itu berada di Pring Petung itu hingga mati karena cinta sejati,” jelasnya.

Oleh karena itu, berdasarkan kisah tersebut warga setempat memercayai mitos tentang keberkahan hubungan cinta bagi sepasang kekasih yang mendaki gunung tersebut.

“Jika ada sepasang kekasih yang belum menikah mendaki Gunung Cumbri, maka akan menjadi jodohnya. Sedangkan kalau sudah menikah, maka suami istri itu akan langgeng,” terang dia.

SMK MUHAMMADIYAH 04 BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
”Despacito” dan Nasib Lagu Sejenis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Damar Sri Prakoso, Program Director Radio Solopos FM. Alamat e-mail penulis adalah damar.prakoso@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melarang pemutaran lagu Despacito di lembaga penyiaran publik…