Suasana pembacaan deklarasi Plaosan dalam pembukaan sekolah sungai angkatan IV dan sekolah gunung angkatan I di kawasan Candi Plaosan, Desa Bugisan, Prambanan, Klaten, Minggu (6/8/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Suasana pembacaan deklarasi Plaosan dalam pembukaan sekolah sungai angkatan IV dan sekolah gunung angkatan I di kawasan Candi Plaosan, Desa Bugisan, Prambanan, Klaten, Minggu (6/8/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Senin, 7 Agustus 2017 10:15 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

2.119 Bencana Terjadi di Jateng pada 2016, Kerugian Capai Rp3,2 Triliun

Bencana Jateng selama 2016 menimbulkan kerugian Rp3,2 miliar.

Solopos.com, KLATEN — Sepanjang 2016 lalu terjadi 2.119 bencana di Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Jumlah itu meningkat dibanding kejadian bencana pada 2015 sebanyak 1.573 kejadian atau naik sekitar 34,7 persen.

Secara terperinci bencana yang terjadi di Jateng 2016 antara lain banjir  sebanyak 296 kejadian, tanah longsor sebanyak 927 kejadian, kebakaran 468 kejadian,  dan angin topan 419 kejadian.

“Total kerugian mencapai Rp3,2 triliun,” kata Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, saat menyampaikan orasi dalam Pembukaan Sekolah Sungai Angkatan IV dan Sekolah Gunung Angkatan I 2017, Gerakan Pengurangan Risiko Bencana di kawasan Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Minggu (6/8/2017).

Gubernur mengatakan indeks risiko bencana di Jateng tergolong tinggi. Butuh sinergi lintas sektoral meliputi masyakarat, perguruan tinggi, dan pemerintah untuk membangun kesadaran apakah suatu daerah aman atau tidak dari bencana.

“Satu-satunya ya spirit gotong royong. Sekolah sungai menjadi besar karena gotong royong. Lantas muncul kepedulian yang membangunkan semangat sukarelawanisme,” terang Ganjar.

Pada kesempatan sama, Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan, mengatakan pembentukan sekolah sungai didasari kebutuhan upaya pengurangan risiko bencana yang tak lagi berbasis derah tetapi berbasis ekosistem.

Pengurangan risiko bencana di per daerah dinilai tidak efektif. Maka dibentuklah sekolah sungai, sekolah gunung, dan sekolah laut. Tak hanya itu, dalam pengurangan risiko bencana juga butuh pengubahan paradigma soal peran masyarakat.

Selama ini masyarakat dinilai sebagai objek sasaran yang pasif dan tidak tahu apa-apa. “Tapi dalam pengurangan risiko bencana berbasis ekosistem, partisipasi maayarakat jadi penting. Terbukti hari ini banyak.yang hadir itu elemen masyarakat bukan pemerintah” terang Lilik.

Lowongan Pekerjaan
PT. GITA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Anomali Ekonomi Indonesia

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Menarik mencermati kondisi perekonomian Indonesia selama tujuh bulan pada 2017 ini. Secara umum…