Para penyandang tunanetra anggota Forum Komunikasi Tunanetra Surakarta mengikuti sarasehan di Kantor PMI Solo, Sabtu (5/8/2017). (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos) Para penyandang tunanetra anggota Forum Komunikasi Tunanetra Surakarta mengikuti sarasehan di Kantor PMI Solo, Sabtu (5/8/2017). (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos)
Minggu, 6 Agustus 2017 07:35 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

PMI Solo Ajari Penyandang Tunanetra Cara Tangani Situasi Darurat

Sekitar 30 penyandang tunanetra mendapat pelatihan penanganan kondisi darurat.

Solopos.com, SOLO — Sekitar 30 penyandang tunanetra duduk di kursi Ruang Rapat I Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Solo, Sabtu (5/8/2017) pagi. Mereka dengan teliti mendengarkan uraian mengenai penanganan penderita gawat darurat (PPGD) yang disampaikan Kepala Seksi Pelatihan PMI Solo, Wanto.

Dengan santai Wanto menjelaskan jenis-jenis kejadian dan penanganan pertama yang tepat. Ia mencontohkan penderita luka bakar hendaknya tidak diolesi pasta gigi. Penggunaan pasta gigi sebagai penanganan pertama pada kondisi luka bakar adalah salah kaprah yang harus dipahami dan dihindari.

“Itu kalau mobil kena cat, dikasih odol, catnya yang kotor bisa hilang. Hla ini luka bakar kok dikasih odol,” kata dia.

Wanto menjelaskan odol atau pasta gigi tidak direkomendasikan untuk penanganan luka bakar. Luka bakar sebaiknya ditangani dengan air yang memiliki kadar PH netral.

Selain luka bakar, kejadian yang mungkin sering ditemui adalah pingsan. Kondisi pingsan itu menurutnya seperti orang tidur. Tapi, penyebabnya adalah kurangnya energi dan oksigen di otak sehingga terjadi secara tiba-tiba.

“Kalau pingsan, gak usah cari air minum atau makanan. Haram masukkan sesuatu ke mulut orang pingsan. Air itu malah bisa menyumbat saluran pernapasan,” tutur dia.

Menolong harus pakai perhitungan. Kalau ada orang pingsan, cara penanganannya gampang yaitu melonggarkan bagian pakaian yang ketat kemudian mengangkat bagian kaki agar peredaran darah ke otak stabil.

“Pakaian yang ketat dikendurkan. Sabuk, tali sepatu itu dilepaskan. Cewek yang mengikat di mana juga dikendorkan. Tahu belum bagian yang mana? Tujuannya agar sirkulasi darah baik,” kata dia diikuti tawa para peserta.

Setelah asupan oksigen di otak terpenuhi, pasien akan sadar. Barulah ia diberi minuman hangat atau air putih. “Enggak usah tanya maunya apa ya? Nanti malah minta es teh,” ujarnya berkelakar.

Salah seorang peserta menanyakan penyakit ayan atau epilepsi. Wanto mengatakan ayan tidak menular karena itu adalah penyakit syaraf. Bahkan lewat air liurnya pun tidak menular.

“Penyakit ayan tidak menular. Bahaya bagi dia. Pas kambuh, dekat dengan kompor, risiko terbakar. Kalau dekat kolam bisa tercebur. Kalau menemui korban seperti itu, diraba mulutnya. Cari ganjal seperti kaus tangan, sapu tangan, kaus kaki, sandal, lalu masukkan mulutnya supaya lidahnya tidak tergigit sendiri. Pada saat kejang, gigi bisa gigit lidah sampai putus. Itu yang bahaya,” paparnya.

Kepala Bagian Penanggulangan Bencana PMI Solo, dr. Arina Hidayati, sebelumnya memberikan materi tentang kegawatan yang mengancam jiwa, khususnya yang berhubungan dengan masalah jantung. Ia menilai banyak orang belum tahu penanganan pertama pada kondisi semacam itu.

“Beberapa artis habis olahraga, mengeluh nyeri dada, kemudian tak tertolong. Masyarakat perlu mendapat materi pertolongan pertama seperti di negara maju,” kata dia saat diwawancarai wartawan.

Ia mengaku mengalami sedikit kesulitan karena biasanya pelatihan dilakukan secara visual. Namun, kendala itu bisa teratasi karena semangat yang besar dari peserta.

“Korban henti jantung, yang penting cepat penanganannya,” kata dia.

Koordinator Forum Komunikasi Tunanetra Surakarta, Ahmad Halim Yulianto, 28, menilai pelatihan semacam itu sangat penting. Rekan-rekannya membutuhkan ilmu pertolongan kegawatdaruratan ketika menemukan kejadian atau terjadi masalah pada diri sendiri.

“Difabel netra sering diidentikkan dengan orang yang selalu membutuhkan. Kami berusaha agar masyarakat merasakan kalau kami bisa dibutuhkan,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com.

Lowongan Pekerjaan
Staf IT Rumah Sakit Mata Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Penurunan PTKP

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (4/8/2017). Esai ini karya Muhammad Aslam, seorang praktisi perpajakan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah aslam_boy@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Target penerimaan pajak yang sering tidak tercapai selalu menjadi perhatian khusus pemerintah dari tahun…