Ilustrasi inflasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters) Ilustrasi inflasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Minggu, 6 Agustus 2017 22:22 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PERTUMBUHAN EKONOMI
Tekan Inflasi, Gapoktan Butuh Penguatan Modal Melalui Perbankan

Pertumbuhan ekonomi turut dipengaruhi hasil pertanian.

Solopos.com, JOGJA — Salah satu upaya menekan laju inflasi yakni dengan memotong arus distribusi bahan pangan yang selama ini terlalu panjang. Upaya tersebut mencoba dilakukan sejumlah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Sleman dengan cara memaksimalkan penyerapan gabah dari petani.

“Selama ini, gabah tersebut tidak terserap maksimal oleh Gapoktan, jadi petani menjualnya ke pengepul. Karena modal gapoktan juga tidak mencukupi untuk membeli gabah dari petani,” ujar Ketua Gapoktan Sidomulyo, Sleman, R. Bangun kepada Solopos.com, Jumat (4/8/2017).

Bangun mengatakan pemerintah pernah mengalokasikan dana penguatan gapoktan senilai Rp150 juta. Namun dana tersebut terbagi untuk membangun gudang senilai Rp50 juta, lumbung Rp20 juta dan sisanya untuk modal membeli gabah dari petani. Namun, kata Bangun, dengan nilai tersebut tidak dapat menyerap seluruh gabah petani.

Lebih lanjut Bangun menjelaskan jika setiap gapoktan menjual hasil panen dari lahan 100ha, dengan gabah rata-rata 7 ton maka total gabah yang dijual petani sekitar 700 ton. Apabila gabah tersebut dijual Rp4.000 per kilogram, maka dengan modal Rp80 juta sampai Rp100 juta tidak cukup untuk membeli seluruh gabah petani.

“Saat itu, yang bisa diserap hanya senilai Rp80 juta saja. Sisanya petani tak ada pilihan selain menjualnya ke pengepul. Tetapi kini akses modal di perbankan cukup membantu gapoktan menyerap gabah dari petani,” jelas Bangun.

Di Sleman, diakui Bangun, belum banyak gapoktan yang bankable. Dari 19 gapoktan yang ada di Sleman yang sudah mengakses tambahan modal di perbankan baru enam gapoktan saja.

Kendati demikian, dengan kecukupan modal yang selama ini dimiliki gapoktan, gabah petani dapat seluruhnya dibeli. Sehingga, gapoktan dapat mengolahnya sendiri menjadi beras, lalu dijual langsung kepada konsumen.

“Karena langsung beli dari petani, jadi beras juga lebih murah. Petani juga lebih untung karena tidak banyak biaya yang dipangkas dari hasil penjualan gabahnya. Karena selama ini juga petani diberi subsidi pupuk hingga benih. Jika semua gapoktan dapat menerapkan ini, maka rantai distribusi lebih pendek dan tidak banyak biaya yang harus dikeluarkan,” papar Bangun.

Bangun mengungkapkan selama ini pengepul-pengepul DIY juga memberikan dampak pada kenaikan harga beras. Pasalnya, banyak pengepul dari daerah sekitar Jogja, seperti Klaten yang mengambil gabah dari petani DIY. Gabah tersebut diolah jadi beras lalu dijual kembali ke pasaran Jogja dengan harga lebih tinggi.

Hal tersebut juga diamini Anggota TPID DIY, Budi Hanoto dalam Rakorda TPID DIY 2017 lalu di Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel. Budi memaparkan komoditas pangan, terutama beras di pasar-pasar utama DIY sebagian besar masih dipasok dari luar daerah. Banyak distributor beras dari Klaten dan Boyolali yang membeli dari petani DIY untuk dijual lagi ke pasar Jogja.

“Kondisi ini mengakibatkan harga pangan rentan spekulasi, harga jual tinggi dan cenderung berpotensi mengalami fluktuasi,” jelas Budi.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…