Peserta Asian Youth Day 2017 menikmati gamelan di Gereja Kotabaru, Jumat (4/8/2017). (I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja) Peserta Asian Youth Day 2017 menikmati gamelan di Gereja Kotabaru, Jumat (4/8/2017). (I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 6 Agustus 2017 01:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Pengalaman para Gusdurian Bercerita tentang Toleransi pada Pemuda Katholik Peserta Asian Youth Day

Sejumlah anggota Gusdurian berbagi pengalaman tentang toleransi beragama pada peserta Asian Youth Day

Solopos.com, JOGJA- Sekartiyasa Kusumastuti, 25, bersama rekannya yang bernama Rofik Udin, 23, sejak awal perjalanan telah mengambil posisi berdiri di bagian depan bus seperti layaknya seorang pemandu wisata yang siap meladeni segala macam bentuk pertanyaan wisatawan.

Sekar, begitu ia biasa mengenalkan dirinya ke orang-orang, hari itu menggunakan baju kaos oblong warna biru dan celana jeans berwarna senada. Outwear yang ia kenakan senada dengan yang dikenakan partnernya. Di bus pariwisata berwarna putih dengan hiasan gambar gajah yang bergerak lancar di jalanan Kota Jogja tersebut, hanya mereka berdua yang berbaju biru, sementara lainnya menguning.

Secara agama, mereka berdua juga berpredikat minoritas, karena orang-orang  berbaju warna kuning semuanya adalah penganut Katolik, sementara mereka menjunjung tinggi Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-sehari.

“Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membunuh orang lain. Islam tidak mengajarkan ekstremisme. Tidak benar Islam adalah Agama yang berbahaya, itu hanya political agenda dari pihak-pihak tertentu,” begitu kata Sekar mencoba meyakinkan mereka yang berbeda keyakinan.

Sepanjang perjalanan dari Jogja Expo Center menuju Paroki Santo Antonius, Kotabaru, pengajar di Universitas Sanata Dharma ini berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya supaya para peserta Asian Youth Day 2017 punya perspektif baru tentang agama Islam, khususnya Islam di Indonesia dan Jogja.

Dengan Bahasa Inggris yang fasih ia ceritakan betapa istimewanya Jogja dengan penduduknya yang berasal dari latar belakang suku, ras, dan agama yang berbeda meskipun dipimpin oleh seorang sultan. Tanpa keraguan sedikit pun ia menyebut Islam di DIY telah berkelindang dengan budaya lokal dan demokrasi dengan cukup baik.

“Kami sangat terbuka dengan yang berbeda, tidak seperti yang dipotret oleh media mainstream selama ini yang menyebut kami sebagai mayoritas sangat tidak toleran. Di masyarakat sendiri semuanya baik-baik saja,” ucapnya Sarjana Sastra Inggris ini.

Sekar tak hanya bicara mengenai toleransi di Indonesia berdasarkan referensi buku atau analisa budayawan di koran Nasional. Ia berbicara toleransi atas dasar pengalaman. Ia yang seorang Muslim, kuliah dan mencari penghidupan di Universitas Katolik. Jadi ia sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama.

Semua yang disampaikan oleh Sekar dipertegas lagi oleh Rofik. Ia saat itu lebih menyoroti tentang mayoritas orang Muslim menolak ide-ide radikal, tapi karena mereka diam dan yang radikal lebih cerewet maka orang-orang di dunia mengidentikkan Islam dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan sebagainya.

Rofik dan Sekar bukanlah fanatik yang berusaha terlalu keras memuji agamanya sendiri. Mereka  adalah salah dua dari ratusan relawan dalam Jaringan Gusdurian yang mendampingi para orang muda Katolik dalam salah satu kegiatan Asian Youth Day 2017, yakni exposure, untuk berbagi pengalamannya sebagai Muslim yang hidup di lingkungan yang plural.

Exposure adalah kegiatan pokok pada hari ketiga penyelenggaraan Asian Youth Day 2017. Lokasi yang menjadi tujuan exposure tersebar di 25 titik di daerah Bantul, Sleman, Kota Jogja, Kulonprogo dan Magelang.

Tempat yang dipilih adalah yang bersifat gerejawi seperti Tunggal Hati Seminari Ganjuran, Paroki Santo Antonius, Gua Maria Sendangsono, dan SD Kanisius Kokap. Pada masing-masing bus yang berangkat berisi dua orang relawan Jaringan Gusdurian. Total bus yang berangkat sebanyak 53.

Belum puas membagikan pandangannya tentang Islam, ternyata bus yang ditumpangi oleh Sekar dan Rofik telah sampai di Paroki Santo Antonius. Sekar sedikit kecewa karena ia berpikir jalanan akan macet dan sampai ke lokasi dalam waktu yang lebih lama. Tapi ia salah, jalanan sedang bersahabat hari itu. “Enggak ada tanya jawab tadi, mungkin dilanjutkan pas pulang nanti,” jelasnya kepada Harianjogja.com, Jumat (4/8/2017).

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…