Waduk Botok, Mojodoyong, Kedawung, Sragen, mengering, Selasa (1/8/2017) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos) Waduk Botok, Mojodoyong, Kedawung, Sragen, mengering, Selasa (1/8/2017) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 6 Agustus 2017 20:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

KEKERINGAN SRAGEN
Waduk Botok dan Gebyar Mengering, 3.934 Ha Lahan Pertanian Terancam Puso

Kekeringan Sragen, lahan pertanian seluas 3.934 hektare terancam puso karena Waduk Botok dan Waduk Gebyar mengering.

Solopos.com, SRAGEN — Lahan pertanian seluas 3.934 hektare di Sragen terancam puso alias gagal panen akibat dua Waduk Botok dan Waduk Gebyar mengering. Para petani diimbau memaksimalkan sumur pantek untuk mengantisipasi gagal panen musim tanam III.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sragen mencatat ada dua waduk dari tujuh waduk yang saat ini sudah mengering, yakni Waduk Botok di Kedawung dan Waduk Gebyar di Sambirejo. Berdasarkan data di Dinas PUPR Sragen, dua waduk itu mengaliri 3.934 hektare lahan pertanian di bawah.

Perinciannya, Waduk Botok mengaliri 2.488 hektare sementara Waduk Gebyar mengaliri 1.446 hektare lahan. Penjelasan itu disampaikan Kepala Bidang Pengairan Dinas PUPR Sragen, Pratondo, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (6/8/2017).

Dia menyebut ada tujuh waduk di Sragen. Selain dua waduk tersebut masih ada lima waduk, yakni Waduk Ketro di Tanon, Waduk Kembangan di Karangmalang, Waduk Blimbing di Sambirejo, Waduk Brambang di Kedawung, dan Waduk Gembong di Karangmalang.

“Waduk Brambang dan Waduk Blimbing juga mulai mengering. Airnya masih ada dan masih memungkinkan digunakan para petani. Khusus Waduk Botok dan Waduk Bayut [Gebyar] sudah tidak ada airnya. Antisipasi ancaman puso, petani bisa memaksimalkan sumur pantek. Waduk itu sebenarnya hanya untuk cadangan air hujan sehingga tidak bisa diandalkan untuk tiga kali musim tanam,” ujarnya.

Dia menjelaskan tidak hanya waduk yang mengering, tapi juga bendungan. Sejumlah embung yang menangkap air hujan juga mengering. Pratondo menambahkan untuk areal pertanian yang terancam itu nanti dipetakan oleh Dinas Pertanian.

Terpisah, seorang warga Jambeyan, Sambirejo, Sugiyono, 38, yang tinggal di dekat Waduk Gebyar menyampaikan kondisi waduk sudah tidak ada airnya. Dia mengatakan waduk itu mengaliri sawah di Sambi, Dawung, Tegalrejo Gondang, sampai Pagah. Dia tidak bisa menghitung areal pertanian yang jelas mencapai seribuan hektare.

“Sebenarnya waduk itu hanya untuk cadangan air pertanian selama dua musim tanam. Pada musim tanam III diharapkan petani tidak tanam padi tetapi palawija sehingga air waduk masih bisa dimanfaatkan. Tetapi para petani sekarang nekat menanam padi-padi-pantun akhirnya ya seperti ini,” ujarnya.

Waktu air mulai mengering warga di sekitar Waduk Gebyar panen ikan. Waduk itu selama dua tahun terakhir tidak mengering dan baru 2017 ini mengering. Sugiyono mengatakan ikannya banyak dan besar-besar. Saat air sedikit dan tidak memungkinkan dipancing, kata dia, ribuan orang tumplek blek mencari ikan.

Mereka yang menangkap dengan jala, ujar dia, bisa mendapatkan penghasilan sampai Rp1,5 juta-Rp2 juta. Padahal mereka hanya menjual ikan Rp20.000 per kg.

“Saya saja dapat 2 kg. Satu ikan bandeng itu beratnya bisa sampai 1,5 kg. Ada juga ikan tombro per ekor bisa mencapai 15 kg. Memang besar-besar. Hal itu terjadi pada pertengahan Juli lalu. Warga dari berbagai daerah berdatangan untuk panen ikan,” tambahnya.

 

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…