Musala di tepi jalan antara Desa Suruh dan Desa Puworejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Jateng. (Facebook.com-Bambang Setyawan) Musala di tepi jalan antara Desa Suruh dan Desa Puworejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Jateng. (Facebook.com-Bambang Setyawan)
Minggu, 6 Agustus 2017 13:50 WIB R. Wibisono/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

INFRASTRUKTUR SEMARANG
Tak Terawat dan Jadi Lokasi Maksiat, Musala Ini Bikin Warganet Prihatin

Infrastruktur berupa musala di Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang yang tak terawat dan dijadikan lokasi maksiat membuat warganet merasa prihatin.

Solopos.com, UNGARAN – Sebuah musala di tepi jalan yang menghubungkan Desa Suruh dan Desa Puworejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng) mengundang rasa prihatin warganet di media sosial Facebook. Pasalnya, kondisi bangunan salah satu infrastruktur di Kabupaten Semarang itu seakan-akan tak terawat dan dikabarkan pernah dijadikan lokasi perbuatan maksiat.

Musala tersebut lantas menjadi perhatian warganet setelah pengguna akun Facebook Bambang Setyawan mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap kisah tragis dari kondisi salah satu infrastruktur penunjang ibadah warga di salah satu sudut Kabupaten Semarang itu ke dinding grup Facebook Kabar Salatiga, Kamis (3/8/2017).

Ia memaparkan musala tersebut telah berdiri sejak 50 tahun silam. “Dalam perjalanan dari Desa Suruh ke Desa Purworejo, saya tertarik dengan bangunan kecil berukuran 4×6 meter yang ada di pinggir jalan sekaligus pinggir sawah. Rumah kecil tersebut, ternyata adalah mushola wakaf taon 1967 dan tanggal 10 Mei kemarin genap 50 taon,” ungkap pengguna akun Facebook Bambang Setyawan dengan menyertakan foto musala tersebut.

Ia juga menjelaskan kondisi bangunan musala tersebut terlihat memprihatinkan karena mengalami kerusakan di beberapa bagian. “Posisinya yang terpencil dalam kesendirian, membuat saya tertarik memasukinya. Seperti galibnya sebuah mushola, di dalam juga terdapat mukena dan sajadah.

Yang membuat nelangsa, ternyata eternit di dalam sudah rusak berat bin bolong-bolong dan catnya kusam pake banget,” imbuhnya.

Sementara itu, sejumlah warganet mengungkapkan fakta yang lebih mengejutkan. Mereka menyatakan musala tersebut pernah dijadikan lokasi untuk menggelar perbuatan maksiat. “Itu kadang kalo malem buat pacaran. Padahal horor Hehehe. Yang sering lewat situ pasti tau horornya,” ungkap pengguna akun Facebook Hellda Noviyanto.

Hahaha sering buat mesum, sering banget malah,” timpal  pengguna akun Facebook Wizz Khalifah.

“Dan parahnya lagi saya sering nemuin remaja pada mabok di situ kalo malem. Tapi dulu pas zaman saya masih sekolah tapi sepertinya sekarang udah gk ada. Mungkin udah dapat tempat baru. Yang harus peduli itu para petani di sekitar situ kan buat istirahat dan sholat,” tulis pengguna akun Facebook Herucbsvulkano Vulkanomoko.

Ungkapan rasa prihatin pun ramai dilontarkan warganet. Mereka menduga musala itu sepi dan tak terawat karena lokasinya yang jauh dari permukiman warga. “Astaghfirullah. Semoga ada perbaikan dari pejabat dan warga sekitar. Majunya Islam di antaranya dilihat dari rumah ibadah sekitar kita,” tulis pengguna akun Facebook Dija Hasibuan.

Iyo dhe, Memprihatinkan. Karena lokasinya ndewe akhirnya sering dipake untuk hal negatif,” timpal pengguna akun Facebook Inayah Mala Hayati.

Sementara itu, sebagian warganet lainnya ramai mengungkapkan bahwa mereka bersedia bergotong royong demi memperbaiki musala tersebut. Pengguna akun Facebook Bambang Setyawan yang kali pertama mencuatkan kisah tragis salah satu infrastruktur di Kabupaten Semarang itu menyatakan bersedia mengoordinasi kegiatan gotong royong yang direncanakan warganet. (Ginanjar Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…