Artis Pamela Bowie (kiri) dan Ge Pamungkas, menghibur penggemarnya saat Meet and Greet Film Mars Met Venus di Hartono Lifestyle Mall, Solo Baru, Sukoharjo, Sabtu (5/8). Jumpa penggemar tersebut sekaligus untuk promosi film. (M.Ferri Setiawan/JIBI/Solopos) Artis Pamela Bowie (kiri) dan Ge Pamungkas, menghibur penggemarnya saat Meet and Greet Film Mars Met Venus di Hartono Lifestyle Mall, Solo Baru, Sukoharjo, Sabtu (5/8). Jumpa penggemar tersebut sekaligus untuk promosi film. (M.Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 6 Agustus 2017 21:42 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Layar Share :

FILM BARU
Pembenaran Ego Laki-laki Vs Perempuan dalam Mars Met Venus

Bintang film Mars Met Venus, Pamela Bowie dan Ge Pamungkas menggelar meet and greet di Hartono Mall, Solo Baru, Sukoharjo, Sabtu (5/8/2017).

Solopos.com, SUKOHARJO — Selain jenis kelamin, laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan sifat dasar yang sangat jelas. Dalam menjalin relationship, pihak cewek dianggap terlalu perasa, sebaliknya cowok tidak pernah peka. Tak ayal meski sudah menjalin hubungan lama, perdebatan tentang hal-hal sepele sering terjadi. Kalau sudah seperti ini, tak ada kebenaran yang hakiki karena kedua belah pihak tak mau disalahkan.

Berdasar pada stereotip umum karakter perempuan dan laki-laki dalam menjalin hubungan, MNC Pictures menggarap film drama komedi berjudul Mars met Venus. Film yang tercetus dari kehidupan pribadi sang sutradara Hadrah Daeng Ratu ini menceritakan dua pemeran utama dengan karakter sama-sama kuat, yaitu Kevin (diperankan komika Ge Pamungkas), dan Mila (diperankan Pamela Bowie). Tentang dramatika sepasang kekasih dari dua versi berbeda. Alur cerita dimulai ketika Kevin yang lulusan arsitek berencana merekam jejak perjalanan cintanya dengan Mila setelah lima tahun berpacaran. Dokumentasi pribadi tersebut rencananya diunggah dalam video blog (vlog).

Bukannya menambah kedekatan, rencana baik ini justru menimbulkan perdebatan. Mereka meributkan hal-hal sepele sehingga terjadi kesalah pahaman karena beda sudut pandang.

“Misal Kevin katanya suka gudeg. Setelah lima tahun berpacaran dia baru bilang ternyata enggak suka gudeg. Itu kan nyebelin banget. Kalau menurut kalian gimana perasaanku sebagai cewek,” kata Pamela saat meet and greet di Foodcourt Hartono Mall Solo Baru, Sukoharjo, Sabtu (5/8/2017).

Tak mau kalah, Ge, juga melakukan pembelaan. Ia menilai Pamela dalam karakter Mila terlalu baper dan tidak realistis. Hal-hal sepele diributkan sehingga menyulut perdebatan.

“Gue disini mewakili perasaan para cowok. Cowok yang selalu salah di mata perempuan. Padahal mereka enggak tahu, dibalik kebahagiaan cewek, ada laki-laki hebat yang selalu pura-pura amnesia,” kata dia menggebu-gebu disambut tawa para penonton.

Saat jumpa pers, Ge, mengatakan sosok Kevin tak jauh beda dari karakter aslinya dan cowok pada umumnya, begitu juga dengan Mila.
Untuk itu mereka tak begitu kesulitan untuk mendalami peran masing-masing tokoh. Justru mereka banyak bereksplorasi sesuai dengan pengalaman bersama pasangan masing-masing.

Dua Versi

Menurut Ge yang agak ribet justru teknis pengambilan gambar. Film tersebut dibuat dalam dua versi berbeda, yaitu Mars Met Venus versi cewek dan cowok. Versi cewek telah dirilis 20 Juli lalu, sedangkan untuk cowok baru awal bulan ini. Mereka harus mengulang proses shooting hingga beberapa kali untuk kedua versi tersebut. Proses pengambilan gambar dilakukan selama 18 hari pada tahun lalu di Jakarta dan sekitarnya. Sementara editing memakan waktu hampir satu tahun.

“Justru yang susah itu pas editing-nya. Karena kedua film harus benar-benar mewakili ego si cewek atau cowok. Yang kalau kalian nonton sebenarnya mereka sama-sama benar. Yang salah adalah komunikasi dalam menjalin hubungan itu sendiri. Ini poin dalam film ini,” kata dia.

Pamela menambahkan film kesebelasnya ini bisa dilihat semua usia. Meski berbasis hubungan percintaan, mereka mengemasnya dalam drama komedi yang akan membuat penonton introspeksi diri sekaligus tertawa.

“Untuk bapak-bapak aman membawa anak perempuannya menonton film ini. Sementara untuk para orang tua mungkin malah bisa nostalgia. Mungkin dulu pas muda seperti ini,” kata dia.

 

 

CV.MULTIKOMUNIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Anomali Ekonomi Indonesia

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Menarik mencermati kondisi perekonomian Indonesia selama tujuh bulan pada 2017 ini. Secara umum…