Tugu Waseso di areal persawahan Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten. Foto diambil Jumat (4/8/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Tugu Waseso di areal persawahan Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten. Foto diambil Jumat (4/8/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Minggu, 6 Agustus 2017 08:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

ASAL USUL
Tugu Waseso di Soropaten Tandai Pertemuan Soekarno dan Kiai Karsorejo

Asal usul Tugu Waseso di Soropaten berkaitan dengan Presiden Pertama RI, Soekarno.

Solopos.com, KLATEN — Sebuah tugu berdiri di tepi sawah Dukuh Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom. Di salah satu dasar tugu terdapat pintu menuju bagian dalam tugu setinggi 12,5 meter itu.

Tangga berbahan logam menjadi titian menuju puncak tugu. Di atas tugu, bendera merah putih berkibar. Oleh masyarakat setempat tugu itu bernama Tugu Waseso.

Tugu itu menjadi pengingat pertemuan antara Kiai Karsorejo dengan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Pertemuan itu terjadi antara 1934-1935. Kiai Karsorejo merupakan sesepuh desa tersebut.

Salah satu buyut Kiai Karsorejo, Sri Nugroho, pertemuan Soekarno dan Kiai Karsorejo bermula ketika Soekarno menemui Raja Keraton Solo. Oleh raja yang menjabat saat itu, Soekarno disarankan meminta doa restu kepada Kiai Karsorejo, seorang tokoh spiritual di Dukuh Pandanan.

Saran itu lantas dilakukan Soekarno. Ia mendatangi Dukuh Pandanan untuk mencari Kiai Karsorejo. Namun, ia tak bertemu dengan Kiai Karsorejo di rumahnya. “Akhirnya bertemu di sawah,” kata Nugroho saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (4/8/2017).

Dari pertemuan itu, Soekarno meminta doa restu untuk berjuang mengusiran penjajah lantaran melihat kondisi rakyat Indonesia yang semakin sengsara. Dari pertemuan itu, Kiai Karsorejo lantas memanjatkan doa.

“Agar diberikan keselamatan dan kemenangan mengusir penjajah. Kemudian diberi bekal berupa rumput grinting untuk mengusir penjajah hingga akhirnya Indonesia bisa merdeka pada 1945,” kata Nugroho.

Nugroho mengatakan tempat pertemuan antara Soekarno dan Kiai Karsorejo lantas dibangun tugu sebagai pengingat. Tugu itu diberi nama Waseso yang artinya pamungkas.

Nugroho mengisahkan Kiai Karsorejo pernah ditangkap tentara Belanda. Hal itu lantaran Kiai Karsorejo mengibarkan bendera merah putih pada masa penjajahan Belanda. “Namun, dalam kurun satu pekan itu dibebaskan,” ungkapnya.

Saat ini, Tugu Waseso kian moncer setelah banyak orang yang datang ke tempat itu dan mengunggah swafoto mereka di media sosial. Tugu itu berdiri di areal persawahan yang berdekatan dengan sendang.

 

lowongan pekerjaan
SUNAN TOUR AND TRAVEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…