Peserta Family Trip Gathering 2017 Wonderful Solo berfoto di Pohon Patah Hati di Waru, Baki, Sukoharjo, Kamis (3/8/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Peserta Family Trip Gathering 2017 Wonderful Solo berfoto di Pohon Patah Hati di Waru, Baki, Sukoharjo, Kamis (3/8/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Sabtu, 5 Agustus 2017 00:00 WIB Danur Lambang Pristiandaru/JIBI/Solopos Solo Share :

WISATA SOLORAYA
Jamu, Angon Bebek, dan Sepur Kluthuk Bikin Biro Wisata Asing Kagumi Soloraya

Biro wisata asing peserta Fam Trip Gathering 2017 memuji potensi wisata Soloraya dan akan membuat paket wisata ke Soloraya. Beberapa potensi itu misalnya industri jamu Nguter, angon bebek di Baki, dan Sepur Kluthuk Jaladara di Solo.

Solopos.com, Sukoharjo – Kunjungan wisata ke Soloraya dalam rangka memenuhi undangan Solo Raya Consortium 2017 (SRC 17), telah membuka mata Azhar, Manajer Kembara Al Hajj Azhar Malaysia, mengenai besarnya potensi Soloraya. Baru dua hari menjajal wisata di Solo, Sragen, Sukoharjo, dan Karanganyar, dia langsung ingin membuat paket wisata.

Melalui event Fam Trip Gathering 2017, SRC 17 memang mengundang biro wisata lokal dan asing untuk menjajal piknik di Soloraya. Pada hari ketiga, Kamis (3/8/2017), mereka memulai perjalanan wisata ke industri jamu Nguter, Sukoharjo. Dari Nguter perjalanan berlanjut ke Desa Waru, Baki, Sukoharjo.

Di desa itu, rombongan datang dengan menaiki andong dan disambut sejumlah anak-anak di lapangan desa. Hamparan sawah menjadi pemandangan yang tidak mereka sia-siakan. Ambil kamera dan langsung jepret. Mereka juga menjajal menggembalakan bebek.

“Anak-anak di sini sangat menyenangkan hati. Berbeda dengan tempat wisata yang lain. Kalau di tempat-tempat wisata lain, ada anak kecilnya yang suka meminta duit. Kalau di sini enggak, sangat menyenangkan,” komentar Azhar saat berbincang dengan solopos.com, Kamis.

Azhar menilai objek wisata di Solo sangat banyak. Sebelumnya, Rabu (2/8/2017) para peserta Fam Trip Gathering 2017 diajak berkeliling Solo dengan Sepur Kluthuk Jaladara dan mengunjungi bangunan monumental seperti Museum Radya Pustaka, Museum Batik Wuryoningrat, Museum Purbakala Sangiran, dan menonton Wayang Orang di Sriwedari.

“Di Solo rupanya banyak sekali potensinya. Ini sangat surprising mengingat saya baru pertama kali di Solo. Hanya saja, publikasinya sangat kurang. Kalau kami cari di Google tentang Solo, enggak banyak konten wisata yang muncul. Berbeda kalau kita cari pariwisata Jogja di Google, banyak sekali kontennya. Bisa saja nanti saya bikin paket wisata untuk berwisata di Solo dan Jogja,” ujarnya.

General Manager (GM) Gerbang Jaya JD Travel & Tours, Jay Ahmad, mengaku ingin membuat paket wisata empat hari tiga malam hanya di Soloraya. “Seperti menggembala bebek ini besar sekali potensinya untuk dijadikan paket wisata. Di tempat lain, terutama Malaysia, enggak ada yang seperti ini. Paket ini bisa memberikan nuansa nostalgia bagi warga Malaysia yang kini daerahnya sudah menjadi kota semua. Apalagi perjalanan dengan kereta uap kemarin, sangat unik sekali membelah keramaian kota dengan kereta uap,” kata dia.

Dia berharap biro wisata lokal, terutama yang tergabung dalam SRC 17, membantunya merumuskan paket wisata di Soloraya. Jay yakin masih banyak objek wisata lain di soloraya yang pantas untuk digali. Pelaku biro wisata Soloraya seharusnya segera bergerak.

Hotel Dinasty, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Perlindungan Kearifan Lokal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (2/8/2017). Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan peminat tema-tema kebudayaan. Alamat e-mail penulis adalah tundjungsutirto@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan…