Sabtu, 5 Agustus 2017 06:22 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

TRADISI GUNUNGKIDUL
Mata Air Dibersihkan untuk Kelestarian (2/2)

Tradisi Gunungkidul kali ini berupa Reresik Kali Merti Embung
Solopos.com, GUNUNGKIDUL — Bencana kekeringan selalu menjadi momok bagi sebagian warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Gunungkidul. Namun cerita tentang kekeringan nyaris tak pernah terdengar di Dusun Ngipak, Desa Ngipak, Kecamatan Karangmojo yang memilliki sumber mata air yang tak pernah kering.

Baca Juga : TRADISI GUNUNGKIDUL : Merawat Sumber Mata Air Sebagai Simbol Kehidupan (1/2)

Menurut Kepala Dusun Ngipak, Edi Purwanto, kolam yang sudah dibangun sejak 1957 itu memang menjadi salah satu sumber kehidupan warga. Meskipun saat ini sudah tidak lagi dimanfaatkan langsung untuk mandi dan mencuci seperti zaman dahulu. Namun manfaatnya sebagai sumber irigasi pertanian warga tidak dapat dinafikan.

Reresik Kali Merti Embung di Dusun Ngipak, Desa Ngipak, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul (IST)

Reresik Kali Merti Embung di Dusun Ngipak, Desa Ngipak, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul (IST)

Oleh sebab itu setiap tahunnya, saat merti dusun, salah satu rangkain kegiatan adalah membersihkan bendungan sungai dan sumber mata air. Hal itu sebagai wujud syukur karena di dusun yang memiliki penduduk sekitar 200 jiwa tersebut memiliki air yang melimpah.

“Meskipun musim kemarau di sini [Dusun Ngipak] tidak pernah terjadi kekeringan. Kami membersihkan mata air agar tetap testari,” kata dia kepada Solopos.com, Jumat (4/8/2017).

Cara melestarikan tidak hanya dengan membersihkan sumber lokasi sumber mata air. Warga juga melakukan tanam pohom gayam. Jenis pohon gayam memang dikenal warga sebagai salah satu pohon yang efektif untuk menyimpan dan mendekatkan air ke permukaan tanah.

Bagi sebagian warga, sumber mata air adalah simbol kehidupan, sehingga untuk melestarikannya adalah sebuah kewajiban. Salah seorang warga, Yohanes Krisnawan mengaku bahwa Sumber Air Ngipak tidak hanya sebagai sumber kehidupan, namun juga menyimpan banyak cerita kenangan masa kecilnya.

Saat ikut bersama warga lainnya membersihkan sumber mata air, Yohanes Krisnawan yang biasa disapa Wawan mengisahkan masa kecilnya. Sumber mata air di pinggir sungai itu membawanya bernostagia pada saat masa kecil, saat di masih duduk di sekolah dasar pada medio 1970 an.

Dahulu, di sungai tersebut pria yang kini telah berusia 47 tahun itu kerap mandi bersama dengan teman-temannya. “Saya masih ingat dulu ketika sumber mata air ini masih banyak dimanfaatkan warga. Saat sore hari saya mandi di sungai bersama dengan teman-teman, warga banyak memanfaatkan sumber untuk mandi dan cuci baju. Dan ada juga yang memandikan sapi di sekitar mata air,” kata dia.

Meskipun sekarang dia tak lagi tinggal di Dusun Ngipak lantaran telah berdomisili di Jakarta bersama dengan istri dan ketiga anaknya, namun dia berharap Sumber Air Ngipak tetap lestari. “Harus tetap dilestarian dan dimanfaatkan untuk kehidupan warga. Jangan sampai nanti malah keduluan ada investor terus warga tidak lagi dapat memanfaatkan,” ungkapnya.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…