Pementasan lakon Hedda Gabler di FKY 2017 di Auditorium teater ISI, Sabtu (5/8/2017).(Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Pementasan lakon Hedda Gabler di FKY 2017 di Auditorium teater ISI, Sabtu (5/8/2017).(Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 5 Agustus 2017 22:35 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Rukman Rosadi Bawa Angin Segar di Teater FKY 2017

Angin segar dibawa bagian teater Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2017

Solopos.com, BANTUL–Angin segar dibawa bagian teater Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2017. Sutradara Rukman Rosadi membawa naskah panjang terkenal karya Henrik Ibsen yang dijuluki sebagai bapak drama modern dalam empat babak pertunjukan “Hedda Gabler”. Pertunjukan ini berkisah tentang intrik yang terjadi dalam kehidupan putri seorang jenderal cemerlang, Hedda Gabler.

Ditemui di sela-sela pementasan, Rossa, panggilan akrab Rukman Rosadi mengatakan ini kedua kalinya naskah ini dipanggungkan secara utuh di Indonesia oleh Saturday Acting Club (SAC). Sebelumnya, naskah ini sempat dipentaskan di Jakarta.

Menurutnya, selain tingkat kesulitannya yang tinggi, naskah drama realis ini disebut-sebut sebagai naskah terbaik Henrik Ibsen. Karakter-karakter dalam naskah ini diciptakan dengan cermat dan logis.

Plot tersusun dengan kausalitas logika yang ketat. “Tidak ada adaptasi dan gubahan, naskah ini ditampilkan utuh dan sesuai aslinya,” ujarnya pada Sabtu (5/8/2017).

Tak hanya itu saja, menurut Rossa naskah ini juga mendapat perhatian dari kalangan pemerhati dan peneliti di ranah pendidikan. Banyak yang berspekulasi naskah ini terpengaruh oleh psikoanalisa Sigmund Freud dan sebaliknya.

Padahal dengan karakter FKY yang merupakan kegiatan hiburan (entertaiment), naskah panjang dan serius ini tentu sulit diterima. “Tapi itulah, naskah ini memang the art of information. Penonton akan mendapat banyak informasi dan pemahaman,” katanya.

Rossa menyebut untuk memainkan lakon ini, SAC bahkan hanya berlatih selama empat bulan saja. Padahal idealnya untuk naskah panjang dan rumit seperti ini, butuh waktu enam bulan agar semua dapat maksimal. Namun pihaknya mengapresiasi kurator teater FKY, Ibnu Jamal yang berani memberi panggung pada hal yang notabene baru seperti ini.

Menurutnya, hal-hal yang baru di FKY seperti ini perlu didorong. Para seniman tak perlu ragu dan takut untuk menjajal hal berbeda. Apalagi Jogja masih jadi salah satu kiblat kesenian yang terpandang di Indonesia. “Masih banyak orang gila di Jogja. Jangan ragu untuk memulai hal baru,” tegasnya.

Pementasan “Hedda Gabler” ini ditampilkan dalam empat babak terpisah. Babak I pukul 15.00 WIB – 16.10 WIB yang berkisah tentang perkawinan palsu Hedda Gabler. Babak II pulul 16.30 WIB – 17.30 WIB tentang rencana balas dendam Hedda Gabler. Babak III dan IV pukul 19.30 WIB – 20.45 WIB yang menceritakan Hedda Gabler menghasut Lovborg dan kematian Hedda yang indah. Setiap pergantian babak diisi dengan performing art dan beberapa hiburan yang telah disiapkan oleh panitia.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…