Pelatih Persis Solo, Widyantoro (kanan). (JIBI/Solopos/M. Ferri Setiawan)
Sabtu, 5 Agustus 2017 00:25 WIB  Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos Indonesia Share :

PERSIS SOLO
Batik & Konsistensi Widyantoro

Persis Solo menampilkan batik yang digunakan oleh jajaran pelatih saat bertanding.

Solopos.com, SOLO – Puluhan ribu pasang mata yang menyaksikan laga Persis Solo melawan PSIS Semarang, 6 Juli 2017, sempat dibikin terbelalak dengan pemandangan unik di pinggir lapangan Stadion Manahan.

Di bench Persis, Pelatih Widyantoro, tampil necis mengenakan kemeja batik warna hijau kombinasi merah. Padahal biasanya sang pelatih hanya memakai kemeja polos lengan panjang saat memimpin Tri Handoko dkk. dari pinggir lapangan.

Tak mau kalah dengan Widyantoro, tim pelatih seperti Albert Rudiana, I Komang Putra dan Budi Kurnia kompak mengenakan batik berwarna coklat gelap motif Cendrawasih. Momen di Derby Jawa Tengah itu pun mengawali munculnya sebuah identitas fashion baru di tubuh tim pelatih Persis.

Ya, hingga sebulan berselang, Wiwid dkk. masih konsisten mengenakan kain tradisional ini saat mendampingi anak asuhnya. Ketika Persis menjamu Persiba Bantul di Stadion Manahan, Kamis (3/8/2017), Wiwid mengenakan kemeja batik warna kuning-hitam. “Belum ada kan pelatih di Indonesia yang pakai batik, ya cuma di Persis,” ujar Wiwid saat berbincang seusai laga Persis versus Persiba.

Kegemaran Wiwid mengenakan batik di pinggir lapangan ternyata bermula dari sanksi PSSI pada Laskar Sambernyawa. Lantaran insiden yang melibatkan suporter saat Persis melawat ke kandang Persiba di Stadion Sultan Agung, 7 Mei, suporter Persis diganjar sanksi menonton tanpa atribut di dua laga (lawan PSIR Rembang dan PPSM Magelang).

Sanksi itu menimbulkan empati tim pelatih yang kemudian memilih batik sebagai bentuk dukungan moril pada suporter. “Semuanya berawal dari sanksi PSSI,” ujar Wiwid sambil tersenyum.

Kini eks pelatih PSS Sleman ini pun seperti punya misi baru dengan seragam batiknya. Dengan memakai batik, dia berharap mampu mengenalkan kain tradisi khas Solo itu pada khalayak luas. Wiwid pun sengaja gonta-ganti motif kemeja batik saat mendampingi Eli Nasoka dkk.

Saat melawat ke kandang PSIR Rembang, Wiwid memakai batik motif parang klitik warna coklat. Sang pelatih kemudian memakai jersey training bermotif batik  parang barong saat tim menjamu Sragen United beberapa waktu lalu. “Kami ingin ikut membatikkan Kota Solo, untuk Indonesia dan dunia internasional,” ujar Widyantoro.

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…