Ilustrasi (Dok/JIBI/Bisnis)
Sabtu, 5 Agustus 2017 17:05 WIB Akhmad Mabrori/JIBI/Bisnis Ekonomi Share :

Mogok SP JICT Berlanjut, Importir Curigai Manajemen Pelindo II

Berlarutnya aksi mogok SP JICT membuat importir resah. Kecurigaan muncul karena tak ada penyelesaian baik dari Pelindo II dan JICT.

Solopos.com, JAKARTA — Mogok kerja di Jakarta International Container Terminal (JICT) sejak Kamis (3/8/2017) yang masih berlangsung hingga saat ini membuat importir di pelabuhan itu semakin cemas.

Ketua BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) DKI Jakarta, Subandi, mengatakan pengalihan sebagian kapal ke New Priok Container Terminal One (NPCT-1) bukanlah keputusan yang mengenakan buat importir.

“Kondisi itu mengingat pelayanan di terminal tersebut sangat buruk karena infrastruktur dan peralatan yang tidak memadai, plus pelayanan yang kurang responsif dan kurang profesional,” ujarnya kepada Bisnis/JIBI, Sabtu (5/8/2017).

Dia mengatakan, kondisi itu semakin menambah panjang pelayanan dan berakibat pada membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan pengguna jasa termasuk importir.

Seharusnya, imbuhnya, pemerintah tegas pada pihak yang sedang bersengketa agar bisa mengakhiri mogok kerja. Dampak mogok dan demo berulang bukan hanya merugikan pada pengguna jasa pelabuhan, tetapi juga pada perekonomian Indonesia serta nama baik Indonesia dimata Internasional.

Saya mencurigai pihak manajemen Pelindo II maupun JICT sengaja tidak mau menyelesaikan masalah ini karena ada sesuatu yang disembunyikan. “Pemerintah harus mencari tahu siapa dalang di balik tidak ada penyelesaian masalah di JICT hingga hari ini dan apa alasannya mengingat telah mengorbankan kepentingan semuanya,” paparnya.

Ratusan pekerja JICT tetap menggelar aksi mogok kerja mulai pukul 07.00 WIB, Sabtu (5/8/2017). Ini merupakan hari ketiga aksi mogok yang dilakulan Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP JICT).

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Memaknai Imlek, Memulihkan Bumi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (15/2/2018). Esai ini karya Hendra Kurniawan, dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menekuni kajian sejarah Tionghoa. Alamat e-mail penulis adalah hendrayang7@tgmail.com. Solopos.com, SOLO–Syahdan ketika Dinasti Qing runtuh dan mengakhiri sejarah…