Nurshardrina Khairadhania (Taipeitimes.com) Nurshardrina Khairadhania (Taipeitimes.com)
Sabtu, 5 Agustus 2017 19:13 WIB Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com Internasional Share :

KISAH TRAGIS
Tertipu Janji Manis, Gadis Indonesia Ini Menyesal Gabung ISIS

Kisah tragis kali ini tentang gadis asal Indonesia yang menyesal bergabung dengan ISIS lantaran tertipu janji manis.

Solopos.com, SOLO — Harapan mendapat pendidikan, layanan kesehatan gratis, upah tinggi, dan hidup makmur membuat Nurshardrina Khairadhania mengajak keluarganya pindah ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Sayangnya, semua impian gadis asal Indonesia itu berubah jadi derita yang tak kunjung berakhir.

Menyesal, hal itulah yang dirasakan Nurshardrina saat ini. Gadis yang kini berusia 19 tahun itu merasakan pengalaman pahit lantaran dibohongi kelompok militan ISIS. Ia menyesal membawa serta 24 orang anggota keluarganya pindah ke Raqqa, Suriah, untuk bergabung dengan ISIS.

Dalam cerita Nurshardrina yang dikutip Telegraph, Sabtu (5/8/2017), dia merasa hidup bersama ISIS seperti di neraka. Di sana, kaum wanita ditempatkan di asrama khusus. Semua wanita dipaksa menikah dengan anggota ISIS yang belum pernah dikenal sebelumnya. Jika menolak, maka mereka akan disiksa dan dijadikan budak pemuas nafsu.

Kehidupan di asrama wanita itu tak kalah mengerikan. Para wanita sibuk bergosip hingga saling berkelahi menggunakan senjata tajam. “Situasinya sangat mengerikan. Aku dan bibi masuk dalam daftar pengantin. Kami tidak tahu siapa mereka, bagaimana latar belakangnya. Tapi, mereka cuma mau menikah dan menikah,” kata Nurshardrina.

Sejak tiba di Raqqa, keluarga Nurshardrina telah bercerai-berai. Semua pria dari keluarganya dijebloskan dalam penjara lantaran menolak mengikuti latihan militer. Setelah beberapa bulan mengalami penyiksaan, mereka lantas memutuskan untu melarikan diri. Mereka melakukan berbagai hal demi keluar dari lubang hitam itu.

Meski sangat sulit, Nurshardrina, bersama ibu, serta delapan wanita yang merupakan kerabatnya, berhasil keluar dari cengkeraman ISIS. Kini, mereka tinggal di tenda pengungsian Ain Issa, Suriah. Nahas, ayah dan empat sepupu laki-lakinya masih berada di penjara di wilayah utara Raqqqa.

Sementara itu, nenek dan pamannya tewas dalam serangan udara. Ia berharap bisa segera kembali ke kampung halamannya di Jakarta, Indonesia.

“Hidup bersama ISIS sangat mengerikan. Semua tindakan mereka sangat melenceng dengan ajaran Islam. Para tentara hidup enak, sementara warga sipil sangat menderita,” ungkapnya.

Keluarga Nurshardrina termasuk di antara ribuan orang yang tertipu oleh ISIS. Mereka tergiur janji manis ISIS yang disampaikan lewat video di Internet. “Semua tentang ISIS hanyalah kepalsuan. Mereka sengaja menampilkan hal-hal baik di Internet,” kata Nurshardrina.

Nurshardrina mengajak keluarganya bergabung dengan ISIS pada 2014 silam. Awalnya ia berpikir bergabung dengan ISIS merupakan keputusan yang tepat untuk mendalami Islam. Keluarga kecilnya menjual semua harta benda demi membiayai perjalanan ke Raqqa.

Nurshardrina beserta keluarganya bertolak ke Suriah melalui Turki. Setibanya di Turki, mereka berpisah demi bisa lolos ke Suriah secara diam-diam. Namun, beberapa anggota keluarganya ditangkap aparat Turki saat mencoba melintasi perbatasan secara ilegal dan langsung dideportasi ke Indonesia.

The jagongan, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL TERIOS TS’2008,Mulus/Gagah R18,Comp AC Baru,Silver,125JtNego, Hub=085640166830 (A001…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Rabun...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (11/9/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO¬†— Judul esai saya ini saya adopsi dari terminologi Profesor Theodore Levitt tentang marketing myopia atau…