Peserta CENA 2017 tengah menyimak ceramah oleh Prof. Kim Don-Choon dari Sungkonghoe University Korea di Gedung Moh. Hatta, Kampus Terpadu UII, Jumat (4/8/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja) Peserta CENA 2017 tengah menyimak ceramah oleh Prof. Kim Don-Choon dari Sungkonghoe University Korea di Gedung Moh. Hatta, Kampus Terpadu UII, Jumat (4/8/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 5 Agustus 2017 12:22 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

KAMPUS JOGJA
Puluhan Mahasiswa Asing Hubungan Internasional Kritisi Konsep Perdamaian

Kampus Jogja UII menjadi tuan rumah CENA Summer School 2017

Solopos.com, SLEMAN – Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi tuan rumah Civil Society Education Network in Asia (CENA) Summer School 2017. Sedikitnya 45 mahasiswa dari sepuluh negara berdikusi mengkritisi berbagai konsep perdamaian dengan mengedepankan masyarakat lokal di luar militer.

Selain mengikuti kegiatan akademik, mahasiswa juga akan terjun langsung ke desa untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat seperti membantu melakukan kerja bhakti. Kegiatan yang digelar selama lima hari itu dibuka di Gedung Moh. Hatta , Kampus Terpadu UII, Jumat (4/8/017).

Ketua Panitia CENA 2017 Irawan Jati menjelaskan, kegiatan yang diikuti 45 mahasiswa dari jenjang S1 hingga S3 itu dibagi tiga, yaitu akademik, non akademik dan pengabdian masyarakat. Dalam giat akademik secara khusus akan mengkritisi perdamaian di Asia, sejalan dengan tema yang diangkat yaitu membangun perdamaian di Asia melalui komunitas lokal di luar militer.

Isu perdamaian sengaja diangkat, karena dalam kacamata pemerintah berbagai negara, seringkali perdamaian diciptakan dengan paksaan dan kekuatan militer. Dalam diskusi CENA 2017, pihaknya ingin memberikan alternatif, bahwa perdamaian tidak bisa dipaksakan dengan militer, namun harusnya dengan pendekatan perdamaian. Pembahasan juga akan dilakukan secara khusus pada konflik di Asia Timur, sekaligus memberikan peluang bagi mahasiswa untuk melakukan presentasi.

“Makanya kami mengkritisi di PBB itu yang ada Dewan Keamanan, bagi kami harusnya itu Dewan Perdamaian. Ada 10 profesor dari berbagai negara yang memberikan materi, rata-rata mereka memiliki latar belakang soal materi perdamaian,” terangnya seusai pembukaan CENA 2017, Jumat (4/8/2017).

Prof. Kim Don-Choon dari Sungkonghoe University Korea dalam presentasinya mengkritisi beberapa hal yang bisa mengancam perdamaian di Asia. Ia menempatkan globalisasi, neoliberalisme dan kemiskinan sebagai isu yang dapat meruntuhkan perdamaian di Asia. Kemudian berkaitan dengan kompleksitas industri militer Amerika Serikat. Selain itu, kata Kim, upaya persaingan hegemoni antara Amerika Serikat dengan China masuk dalam urutan ketiga yang dapat mengancam perdamaian Asia.

“Selanjutnya adalah pengungsi dari perang sipil, diskriminasi sosial dari kaum minoritas dan fundamentalisme agama,” ungkap dia.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…