Suasana pelabuhan peti kemas di Tanjung Priok, Jakarta. (JIBI/Bisnis Indonesia/Alby Albahi)
Sabtu, 5 Agustus 2017 16:02 WIB Ekonomi Share :

Hari Ketiga Mogok SP JICT, Pebisnis di Tanjung Priok Menjerit

Pebisnis di Tanjung Priok mulai merasakan dampak mogok SP JICT yang memasuki hari ketiga.

Solopos.com, JAKARTA — Pebisnis di Pelabuhan Tanjung Priok mulai menjerit lantaran kesulitan dalam proses memasukkan dan mengeluarkan peti kemas ekspor-impor. Pasalnya, kondisi terminal lainnya di Pelabuhan Priok semerawut pasca lumpuhnya kegiatan di Jakarta International Conatiner Terminal (JICT) seiring aksi mogok Serikat Pekerja JICT.

Ketua Forum Pengusaha Pengurusan Jasa Transportasi dan Kepabeanan (PPJK) Pelabuhan Tanjung Priok, M. Qadar Jafar, mengatakan kondisi itu terjadi sejak Jumat (4/8/2017). Saat itu, pengiriman kontainer untuk impor cukup banyak dan ekspor juga berdatangan ke pelabuhan Priok.

“Hingga pagi ini, masih ada peti kemas impor yang sudah clearance dan seharusnya sudah delivery tetapi masih tertahan di TPK Koja maupun NPCT-1. Apalagi, akses ke NPCT-1 itu sangat crowded [padat] dan kegiatan pemeriksaan barang di kedua terminal itu memakan waktu sangat lama, bisa lebih dari empat jam,” ujar Qadar kepada Bisnis/JIBI, Sabtu (5/8/2017).

Dia mengungkapkan berdasarkan laporan petugas di lapangan, truk trailer harus mengantre lebih dari enam jam untuk bisa masuk ke lapangan penumpukan dan dermaga melalui gate TPK Koja dan gate NPCT-1. Bahkan, ada trailer yang masuk sejak jam 14.00 WIB baru bisa dilayani pada pukul 23.00 WIB.

“Kondisi seperti ini sangat merugikan pengguna jasa. Kami berharap mogok kerja JICT segera dihentikan karena terminal lainnya di Priok belum sepenuhnya mampu menangani pengalihan semua kapal dan bongkar muat barang dari JICT. Kami minta semua pihak berkepentingan harus mengedepankan kepentingan nasional dalam menyelesaikan kemelut di JICT tersebut.” tuturnya.

Sekretaris Perusahaan TPK Koja, Nuryono Arif, mengatakan kemacetan didalam TPK Koja pada Jumat (4/8/2017) malam, disebabkan adanya truk yang melintang posisinya di gate sehingga menghalangi truk trailer lainnya yang hendak masuk. “Sudah kami atasi dan kondisinya sudah mencair,” ujarnya.

Pasca-aksi mogok SPJICT, layanan kapal dan bongkar muat dari JICT dialihkan ke empat terminal peti kemas lainnya di Pelabuhan Tanjung Priok. Keempatnya yaitu New Priok Container Terminal One (NPCT-1), TPK Koja, Terminal Mustika Alam Lestari (TMAL), dan Terminal 3 Pelabuhan Priok.

Adapun kegiatan penerbitan dokumen billing peti kemas JICT juga dialihkan ke loket terminal penumpang pelabuhan Priok. Sementara itu, terminal 2-JICT yang selama ini idle juga dijadikan buffer untuk menampung sementara peti kemas.

Informasi yang diperoleh Bisnis/JIBI, antrean dokumen billing JICT akibat aksi mogok pekerja itu mencapai ribuan dokumen. Padahal dalam kondisi normal antrean hanya berkisar diangka ratusan dokumen.

Sementara itu, ratusan pekerja pelabuhan yang tergabung dalam Serikat Pekerja PT Jakarta International Container Terminal (SPJICT) masih melakukan aksi mogok kerja pada hari ini, Sabtu (5/8/2017).

Ini merupakan hari ketiga, dari aksi para pekerja pelabuhan di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok itu menggelar mogok menyusul belum dicapainya titik temu dalam penyelesaian kemelut JICT. Rencananya mogok kerja SPJICT itu akan dilakukan hingga 10 Agustus 2017.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…