Pengamat Ekonomi Faisal Basri Pengamat Ekonomi Faisal Basri (Rachman/JIBI/Bisnis)
Sabtu, 5 Agustus 2017 19:32 WIB Adib Muttaqin Asfar/JIBI/Solopos Ekonomi Share :

Faisal Basri Sebut Daya Beli Tak Merosot, Tapi Ini yang Diwaspadai

Pakar ekonomi UI Faisal Basri menyebut daya beli masyarakat tidak merosot. Namun, perlambatan konsumsi harus diwaspadai.

Solopos.com, SOLO — Fenomena melambatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia yang disimpulkan sebagai pelemahan daya beli, masih menjadi perdebatan. Pakar ekonomi Faisal Basri menyebutkan daya beli sebenarnya tidak merosot atau turun terlalu tajam.

Dalam artikel yang diterbitkan di blognya, faisalbasri.com, berjudul Daya Beli Tidak Merosot, Faisal menyebutkan tidak ada kejadian luar biasa yang menyebabkan daya beli masyarakat secara keseluruhan tiba-tiba merosot. Hal itu ditandai dengan masih tumbuhnya konsumsi masyarakat dalam lima tahun terakhir, meskipun melambat.

Dalam lima tahun terakhir, tulisnya, pertumbuhan riil konsumsi masyarakat mencapai rata-rata 5 persen. Sementara itu pertumbuhan nominal konsumsi masyarakat pada triwulan I-2017 masih 8,6 persen. Menurut Faisal, angka ini menunjukkan konsumsi masyarakat masih naik (tumbuh).

“Memang benar kenaikan konsumsi masyarakat sedikit melambat menjadi di bawah 5 persen atau persisnya 4,93 persen pada triwulan I-2017, tetapi jauh dari merosot atau turun sebagaimana banyak diberitakan belakangan ini. Rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) terbaru oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Senin depan [7/8/2017] hampir bisa dipastikan akan memperkuat kesimpulan tidak terjadi kemerosotan daya beli atau konsumsi masyarakat,” tulisnya.

Dia mengakui sangat mungkin ada kelompok masyarakat yang mengalami penurunan daya beli. Salah satu indikasinya adalah kalangan PNS yang dua tahun terakhir tidak mengalami kenaikan gaji. Selain itu, kelompok masyarakat terbawah Indonesia seperti buruh bangunan, buruh tani, dan petani yang masuk dalam 40 persen berpendapatan terbawah dalam (bottom-40), juga mengalami penurunan upah riil.

“Namun, nilai konsumsi kelompok ini relatif kecil dalam keseluruhan konsumsi masyarakat. Di kelompok ini yang mengalami peningkatan daya beli adalah nelayan tangkap sebagaimana ditunjukkan oleh kenaikan nilai tukar [terms of trade].”

Sementara itu, untuk kalangan menengah (mid-40) mengalami kondisi yang berbeda-beda. Tiga level dalam kelompok ini, lower-middle, mid-middle, dan upper-middle, kondisinya berbeda-beda.

“Pegawai negeri, TNI/Polri, dan pensiunan/purnawirawan mengalami kecenderungan penurunan daya beli karena setidaknya sudah dua tahun tidak menikmati kenaikan gaji atau uang pensiun. Sebaliknya, kelompok professional di berbagai sektor, terutama sektor jasa, sangat boleh jadi menikmati kenaikan upah riil sehingga daya belinya naik.”

Faisal membandingkan data BPS yang menyimpulkan keseluruhan konsumsi masyarakat secara riil naik cukup stabil sekitar 5 persen. Dia mengakui data penjualan sepeda motor Juni 2017 turun tajam 30 persen dari bulan yang sama 2016, namun menurutnya hal itu tidak bisa jadi dasar untuk menyimpulkan merosotnya daya beli.

“Kemerosotan penjualan sepeda motor sudah berlangsung sejak 2015. Sebaliknya, sekalipun penjualan mobil anjlok 27,4 persen pada Juni 2017, selama Januari-Juni masih mencatatkan pertumbuhan positif 0,3 persen. Kalau data Juni dikeluarkan, pertumbuhan penjualan mobil Januari-Mei lumayan tinggi, yaitu 6 persen. Kemerosotan penjualan mobil pada Juni bisa dimaklumi mengingat hari kerja efektif bulan itu sangat pendek. Beberapa barang dan jasa juga mengalami kejadian serupa.”

Menurutnya, ada hal lain yang perlu diwaspadai, yaitu gejala dini penurunan pertumbuhan konsumsi masyarakat. Pasalnya, sumbangan konsumsi masyarakat dalam produk domestik bruto (PDB) masih dominan, yakni mencapai 58%. Apalagi, penurunan konsumsi di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Hotel Dinasty, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Penurunan PTKP

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (4/8/2017). Esai ini karya Muhammad Aslam, seorang praktisi perpajakan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah aslam_boy@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Target penerimaan pajak yang sering tidak tercapai selalu menjadi perhatian khusus pemerintah dari tahun…