Penanggung Jawab Imunisasi Puskesmas Kartasura, Arningsih, menunjukkan surat pernyataan orang tua murid yang menolak imunisasi, Kamis (3/8/2017). (Iskandar/JIBI/Solopos) Penanggung Jawab Imunisasi Puskesmas Kartasura, Arningsih, menunjukkan surat pernyataan orang tua murid yang menolak imunisasi, Kamis (3/8/2017). (Iskandar/JIBI/Solopos)
Sabtu, 5 Agustus 2017 08:35 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

64 Ortu Siswa SDIT Al Madinah Menolak Imunisasi MR, DKK Sukoharjo Kirim Tim Bersama MUI

DKK Sukoharjo mengirim tim ke SDIT Al Madinah terkait adanya 64 orang tua siswa yang menolak imunisasi MR.

Solopos.com, SUKOHARJO — Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo menerjunkan tim untuk berdialog dengan para orang tua/wali murid SDIT Al Madinah, Windan, Kartasura, yang menolak anak mereka diimunisasi measles and rubella (MR).

Tim dari DKK Sukoharjo menggandeng pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sukoharjo untuk membujuk orang tua siswa agar mengizinkan anak mereka diimunisasi MR. Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Penyakit Menular (PPM) DKK Sukoharjo, Bejo Raharjo, mengatakan tim dari DKK Sukoharjo terdiri atas tiga petugas kesehatan dan pengurus MUI Sukoharjo.

Mereka mendatangi sekolah untuk berdialog dengan para orang tua/wali murid serta pengurus sekolah. “Tadi pagi tim sudah turun lapangan ke lokasi. Kami langsung menindaklanjuti laporan penolakan imunisasi MR di Kartasura,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (4/8/2017).

Sebagian besar orang tua/wali murid menolak anak mereka diimunisasi MR beralasan karena keyakinan. Mereka menganggap vaksin imunisasi menggunakan bahan yang dilarang agama atau haram. Sebagian anak lainnya tak mengikuti imunisasi karena berbagai alasan seperti sakit.

Bejo menegaskan petugas kesehatan telah menyosialisasikan imunisasi MR ke masing-masing sekolah pada Juli lalu. “Imunisasi itu bertujuan meningkatkan kekebalan tubuh anak. Kami jamin vaksin imunisasi MR halal karena tidak mengandung bahan vaksin yang dilarang agama,” ujar Bejo.

Bejo tak memungkiri ada potensi penolakan imuniasasi MR di daerah lainnya. Kondisi ini pernah muncul saat 12 warga Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, terjangkit campak pada Februari lalu. DKK Sukoharjo menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) penyakit campak.

Para penderita penyakit campak diketahui belum pernah menerima imunisasi campak. Lebih jauh, Bejo menambahkan imunisasi MR dilaksanakan selama dua bulan mulai Agustus-September. Pemberian vaksin difokuskan di pos pelayanan terpadu (posyandu), puskesmas dan rumah sakit pada September.

“Khusus sekolah bulan ini [pemberian vaksin]. Nanti pemberian vaksin juga dilayani di layanan kesehatan masyarakat seperti posyandu dan puskesmas,” terang dia.

Berdasarkan data DKK Sukoharjo, jumlah sasaran program imunisasi MR di Sukoharjo sebanyak 194.150 anak. Target sasaran imunisasi MR berusia sembilan bulan-14 tahun. Pemberian vaksin dilakukan di sekolah, posyandu, puskesmas, dan rumah sakit.

Sementara itu, jumlah orang tua/wali murid SDIT Al Madinah yang menolak anak mereka diimunisasi sebanyak 64 orang. Wakil Ketua MUI Sukoharjo, Guntur Subiyantoro, mengatakan masyarakat tak perlu khawatir lantaran vaksin yang diberikan saat imunisasi aman dan halal.

Anak balita harus diberi imunisasi untuk mencegah terjangkit penyakit seperti campak, gondongan dan rubella. Guntur meminta para orang tua/wali murid agar mengajak anak mereka diimunisasi sesuai jadwal.

“Sudah ada fatwa MUI mengenai imunisasi. Imunisasi hukumnya wajib. Jika anak tak diberi vaksin imunisasi sangat rawan terjangkit penyakit dan mengakibatkan kematian,” kata dia.

 

PT. BPRS AL MABRUR KLATEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Dilema Suporter

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (31/7/2017). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO — Suporter adalah pemanis dalam permainan sepak bola. Tepuk tangan suporter, nyanyian mereka, gerak dan gesture mereka, bahkan lenguhan yang…