Sepur Kluthuk Jaladara (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha) Sepur Kluthuk Jaladara (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)
Jumat, 4 Agustus 2017 02:00 WIB Danur Lambang Pristiandaru/JIBI/Solopos Solo Share :

WISATA SOLO
Biro Wisata Asing Jajal Naik Jaladara Sampai Nonton Wayang Orang

Solo Raya Consortium 2017 (SRC 17) mengundang 30 biro wisata.

Solopos.com, SOLO — Langkah nyata komunitas pelaku bisnis wisata di Soloraya, Solo Raya Consortium 2017 (SRC 17), untuk menjual pariwisata Soloraya dimulai Rabu (2/8/2017). Tiga puluh biro wisata lokal maupun mancanegara didatangkan ke Solo dan akan mengikuti petualangan wisata di Soloraya dengan menyambangi objek wisata khas Soloraya.

Kegiatan akan didominasi wisata pengenalan alias familiarization trip (fam trip). Dengan mengenal dan merasakan sendiri, SRC 17 yang baru dibentuk 15 Mei 2017 itu berharap 30 biro perjalanan wisata tersebut mendatangkan tamu ke Soloraya. Penyelenggara Fam Trip Gathering (FTG) 2017 mengundang biro wisata lokal yang biasanya membawa tamu inbound (masuk ke Indonesia) dan biro perjalanan wisata dari luar negeri seperti dari Hong Kong, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Tiongkok.

Sekretaris SRC 17 yang juga pemilik biro perjalanan Yang Kung Tour and Travel, K.R.A. Djuritno Yudoadingrat, mengatakan cara mempromosikan Soloraya dengan fam trip paling efektif mendatangkan tamu. Cara ini berbeda dengan konsep promosi yang selama ini lebih banyak dilakukan yakni dengan mendatangi mereka satu per satu lalu presentasi atau melalui forum bisnis seperti table top. Konsep lama itu kurang mengena karena tidak ada kesan bagi penjual.

Upaya SRC 17 ini memang terbilang berani. Dengan dana sendiri masing-masing anggota menyokong semua biaya untuk mendatangkan biro perjalanan wisata dan membiayai empat hari fam trip di Soloraya. “Kami memberikan sumbangsih sesuai kemampuan kami. Seperti contohnya pihak hotel memberikan sumbangsihnya melalui kamar dan makanan, biro wisata memberikan sumbangsih melalui paket wisata yang ditawarkan,” kata dia kepada wartawan di Megaland Hotel Solo, Senin (31/7/2017).

Djunanto memaparkan gotong-royong menyokong biaya tidak bisa diukur dengan nilai uang. Sebagai gambaran untuk transportasi menuju lokasi wisata ditanggung Jimbaran Transport sedangkan pemerintah daerah mendukung dengan menggratiskan biaya masuk objek wisata andalan daerah seperti Museum Radya Pustaka Solo, Museum Purbakala Sangiran Sragen, dan Grojogan Sewu Karanganyar. Lalu, mengenai akomodasi meningap dan makan di hotel ditanggung hotel yang ditempati.

Para Rabu, peserta fam trip diajak berkeliling Solo dengan Sepur Kluthuk Jaladara, mengunjungi Museum Radya Pustaka, Museum Batik Wuryaningratan, Sangiran, makan malam di Loji Gandrung, dan menonton pentas wayang orang di Sriwedari.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Akuntabilitas Dana Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (9/8/2017). Esai ini karya Agus Riewanto, doktor Ilmu Hukum dan dosen di Fakultas Hukum dan Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah agusriewanto@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam beberapa tahun belakangan ini…