Sejumlah penari cing-cing goling berlarian menginjak-injak tanaman kacang tanah milik warga di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo. Kamis (3/8/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi) Sejumlah penari cing-cing goling berlarian menginjak-injak tanaman kacang tanah milik warga di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo. Kamis (3/8/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Jumat, 4 Agustus 2017 13:55 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

TRADISI GUNUNGKIDUL
Upacara Cing-Cing Goling, Tanaman Petani Diinjak, Namun Disyukuri

Sebagai wujud syukur masyarakat Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo melakukan upacara adat yang dinamakan cing-cing goling

 
Solopos.com, GUNUNGKIDUL—Sebagai wujud syukur masyarakat Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo melakukan upacara adat yang dinamakan cing-cing goling. Dalam acara tersebut ratusan ayam ingkung dikumpulkan untuk didoakan dan disaat bersamaan, belasan penari melakukan tarian cing-cing goling berlarian menginjak tanaman petani.

Tarian yang dipadu aksi teatrikal diperankan warga setempat, mereka berlarian menginjak-injak tanaman pertanian milik warga. Meskipun tanaman diinjak-injak, tetapi petani setempat tidak marah tetapi justru mengharapkan. Karena warga setempat percaya, tanaman yang diinjak-injak tidak akan mati, tetapi justru bertambah subur.

“Warga disini percaya jika tanaman yang dinjak-injak tidak akan mati, malah panen berikutnya akan menjadi subur,” kata Ketua Panitia, Sudirman, Kamis (3/8/2017).

Tarian tersebut merupakan bagian dari cerita perjuangan pelarian dari Kerajaan Majapahit. Dahulu terdapat dua pelarian dari Majapahit yakini Wisangsanjaya dan Yudopati yang singgah ke wilayah Dusun Gedangan. Selain mengusir penjajah dah para perampok, mereka juga membuat sungai dan bendungan, yang kemudian airnya digunakan warga untuk irigasi pertanian.

Oleh sebab itu lah setiap satu tahun sekali sebagai wujud syukur digelar acara cing-cing goling. Hal itu karena melimpahnya hasil pertanian yang tidak lepas dari adanya bendungan yang dibangun ratusan tahun lalu. Para petani bisa menanam meski saat ini sedang musim kemarau.

“Bendungan sudah dimoderinisasi sekitar tahun 1974, saat ini bisa mengaliri sekitar 50 hektar lahan pertanian,” katanya.

Selain tarian, dalam prosesi adat itu juga disembelih ratusan ekor ayam. Pada tahun ini ada sekitar 500 ingkung ayam yang dibawa oleh warga yang kemudian didoakan. Setelah didoakan atau dilakukan kenduri, seluruh makanan dibagikan kembali ke warga, dan pengunjung untuk dibawa pulang.

Salah seorang warga Ernawati mengaku sejak kecil dirinya mengikut tradisi tersebut. Namun sejak beberapa tahun lalu dirinya merantau keluar daerah sehingga tidak dapat mengikutinya lagi. Dia bersyukur tahun ini dapat pulang ke kampung halaman untuk mengikuti tradisi tersebut.

Dia mengaku kagum dengan tradisi yang masih lestari di dusunya itu. “Saya sangat Kagum, karena tradisi ini masih diikuti masyarakat,” kata dia.

PT BPR RESTU KLATEN MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Perlindungan Kearifan Lokal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (2/8/2017). Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan peminat tema-tema kebudayaan. Alamat e-mail penulis adalah tundjungsutirto@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan…