Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memerankan Dharmadyaksa saat pergelaran ketoprak di halaman Gedung Sunan Pandanaran, Kamis (3/8/2017) malam. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memerankan Dharmadyaksa saat pergelaran ketoprak di halaman Gedung Sunan Pandanaran, Kamis (3/8/2017) malam. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Jumat, 4 Agustus 2017 20:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

Tampil Spontan Tanpa Latihan di Ketoprak Klaten, Gubernur Ganjar Sukses Bikin Penonton Ger-Geran

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tampil dalam pertunjukan ketoprak di Klaten.

Solopos.com, KLATEN — Tawa penonton menggema ketika mendengar celutukan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, saat tampil pada pergelaran ketoprak malam Jumat Legi di halaman Gedung Sunan Pandanaran, Kamis (3/8/2017) malam.

Ganjar memerankan Dharmadyaksa pada pergelaran ketoprak berlakon Amukti Palapa itu. Tawa terdengar ketika Dharmadyaksa bertemu rombongan Ra Kuti yang akan melakukan pemberontakan terhadap Raja Majapahit, Prabu Jayanegera.

Berontak-berontak marahi getihen kabeh. Apa ora digeguyu wong Klaten? Yen berontak-berontak tak kandhake Bu Bupati kowe [memberontak membuat berdarah semua. Apa tidak ditertawakan orang Klaten? Kalau memberontak kalian saya laporkan ke Bu Bupati],” kata Ganjar seraya menunjuk Plt. Bupati Klaten, Sri Mulyani, yang duduk di kursi penonton.

Rombongan Ra Kuti yang diperankan empat pejabat Pemkab Klaten tetap mengotot memberontak. “Nang sejarah kuwi sing jenenge berontak marakke negarane sengsara. Kowe ora ndelok nang Suriah bom-boman. Apa kowe ora tau maca koran? Ayo urip sing tentrem, kabeh dijaga, ben Majapahit ngadek jejeg [Dalam sejarah itu memberontak membuat negara susah. Kamu tidak melihat di Suriah ledakan bom di mana-mana. Apa kamu tidak membaca koran? Ayo hidup yang nyaman, semua dijaga biar Majapahit berdiri tegak],” kata Ganjar.

Meski tampil sekitar 15 menit, aksi Ganjar memerankan Dharmadyaksa cukup menghibur warga yang malam itu memadati halaman Gedung Sunan Pandanaran. “Tema [Amukti Palapa] menarik, secara kontekstual pas. Apa itu kekuasaan diperebutkan dengan memberontak. Pesannya adalah menciptakan kerukunan. Karena seting Majapahit adalah seting Indonesia. Prosesnya harus baik, masyarakat harus rukun,” katanya.

Ganjar berpesan agar pergelaran ketoprak yang diperankan para pejabat memberikan pesan moral serta pembangunan kepada masyarakat. “Terus terang tidak boleh serius-serius. Kalau memang sangat mainstream justru penonton larut pada masa lalu yang membayangkan sejarah. Tetapi, kalau diberikan suatu gimmick-gimmick adanya pesan mesti akrab, mesti ber-Bhinneka Tunggal Ika, mesti nyengkuyung bareng-bareng. Jadi, ada pesan moral kepada masyarakat,” urai Ganjar yang mengaku sudah beberapa kali main ketoprak.

Pengasuh Omah Wayang, Kristiaji, mengatakan Ganjar yang memerankan Dharmadyaksa tampil spontan tanpa menghafalkan teks meskipun beberapa hari sebelumnya naskah sudah dikirimkan. “Jadi spontanitas. Sebelum tampil hanya tanya apa inti yang akan disampaikan. Meski spontanitas, substansinya sama, mengingatkan agar tidak memberontak dan berperang,” kata Kristiaji yang juga pengurus Dewan Kesenian itu.

Ada 52 orang yang tampil memerankan lakon Amukti Palapa pada pergelaran ketoprak malam itu. Dari jumlah itu, 40 orang merupakan pejabat Pemkab, anggota DPRD, camat, kepala sekolah, serta kepala BUMD.

Selain itu, terdapat para pemain serta alumni Festival Ketoprak Pelajar. Untuk menyajikan peran tersebut, para pejabat tersebut berlatih sekitar lima kali. Penampilan Ganjar bersama pejabat itu disaksikan warga yang memadati halaman Gedung Sunan Pandanaran.

Di kursi pejabat, terlihat Plt. Bupati Klaten, Sri Mulyani, bersama rombongan Muspida yang ikut menyaksikan ketoprak tersebut. Selain itu, terlihat mantan bupati Klaten yang juga Ketua Umum Dewan Kesenian Klaten, Sunarna.

Kristiaji mengatakan para penampil latihan dua kali. Namun, Ganjar tak ikut latihan untuk menyajikan penampilan itu. “Dua kali di Omah Wayang dan tiga kali di rumah dinas wakil bupati. Untuk Pak Ganjar hanya dikirimkan naskah yang akan diperankan,” urai Krist.

Kristiaji menjelaskan ketoprak tersebut rutin digelar di halaman Gedung Sunan Pandanaran setiap 35 hari sekali pada malam Jumat Legi. Namun, untuk ketoprak pejabat baru kali pertama itu digelar.

Soal lakon yang dimainkan, ia menjelaskan kisahnya tentang pemberontakan saat majapahit dipimpin Prabu Jayanegara. “Ceritanya itu memancing emosi. Banyak konflik pada cerita itu dan memang konflik politik,” urai dia.

SD MUHAMMADIYAH PK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Perlindungan Kearifan Lokal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (2/8/2017). Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan peminat tema-tema kebudayaan. Alamat e-mail penulis adalah tundjungsutirto@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan…