Seorang desainer dari APPMI menunjukkan kain batik kombinasi antara motif parijotho dan salak yang nantinya akan menjadi ikon batik Kabupaten Sleman, Jumat (11/4/2014). (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I.N.)
Jumat, 4 Agustus 2017 17:37 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Sleman Fashion Festival Angkat Tema Batik Pewarna Alami

Sleman Fashion Festival (SFF) 2017 mengangkat tema batik pewarnaan alami dan pengembangannya untuk mereduksi limbah berbahaya

Solopos.com, SLEMAN-Sleman Fashion Festival (SFF) 2017 mengangkat tema batik pewarnaan alami dan pengembangannya untuk mereduksi limbah berbahaya. Beragam agenda akan digelar di Candi Prambanan dan Jogja City Mall.

Rangakaian acara akan dilakukan ada 7 hingga 13 Agustus mendatang. Kepala Dinas Pariwisata, Sudarningsih mengatakan kegiatan diselenggarakan berupa fashion show batik, workshop, dan kuliner.

“Fashion show dilaksanakan 2 hari, tanggal 12 dan 13, bisa menjadi atraksi wisata untuk menarik wisatawan ke Sleman,” ujarnya dalam jumpa media, Kamis (3/8/2017).

Ning mengatakan akan ada 24 desainer yang tampil baik lokal maupun nasional di Candi Brahma Prambanan. Kegiatan SFF 2017 juga akan mengedapankan upaya pengenalan batik pewarna alami, SOP teknisnya, dan produk akhirnya.

Hal ini direalisasikan dengan pelaksanaan workshop mengenai pengembangan eco labelling oleh tim dari Universitas Gadjah Mada dan pengikat warna serta pengeringannya yang lebih cepat dari akademisi Institut Teknologi Bandung.

Luwi Saluadji, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Fashion dari Kamar Dagang Indonesia (KADIN) pusat menjelaskan semua workshop dan seminar industri diselenggarakan tanpa pungutan biaya. Sementara pagelaran busananya hanya dikenakan biaya tiket masuk areal wisata candi.

Ia mengatakan topik yang diangkat salah satunya untuk meningkatkan kreatifitas pelaku industri fashion. Meski kerap dinyatakan jika daya beli masyarakat saat ini menurun, desainer ini menilai hal sebaliknya terjadi di kalangan menengah ke atas. “Merk kelas atas baik lokal maupun mancanegara penjualannya baik-baik saja,” jelasnya.

Karena itu, pelaku industri sebaiknya memiliki variasi produk serta pemetaan pangsa pasar. Produk alami, jika diolah dengan baik, disebutnya bisa dijual dengan harga yang tinggi.

Ia mencontohkan pengelolaan kain tenun Palembang yang sudah sangat matang sehingga memberikan kesejahteraan bagi pengrajin. Jenis kain tradisional ini tak merugi meski daya beli menurun karena banyak dipakai kalangan atas. Bahan baku yang dimanfaatkan juga alami tanpa mengesampingkan kenyamanan tekstil.

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…