Petani memanen garam di tambak wilayah Kabupaten Pati, Jateng, Sabtu (15/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Harviyan Perdana Putra) Petani memanen garam di tambak wilayah Kabupaten Pati, Jateng, Sabtu (15/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Harviyan Perdana Putra)
Jumat, 4 Agustus 2017 01:22 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Petani Garam Jawa Tengah Masih Gagal Panen, Pelaku IKM Resah

Panen terbatas, harga garam masih tinggi

Hariaanjogja.com, JOGJA — Gagal panen yang dialami petani garam di pesisir Jawa Tengah menjadi perhatian khusus Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Pemerintah pun akhirnya memutuskan untuk mengimpor garam demi mencukupi kebutuhan garam dalam negeri.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih saat mengikuti acara di Jogja mengatakan, yang paling terkena dampak dari kelangkaan garam adalah pelaku IKM karena mereka kekurangan garam konsumsi.

“Mereka sudah teriak karena kehabisan, maka kami gerak,” katanya, Rabu (2/8/2017).

Pelaku IKM biasanya menggunakan garam konsumsi untuk pengasinan. Lain halnya dengan garam industri yang banyak dipakai untuk industri tekstil kelas besar.

Ia menegaskan  keputusan terakhir yang diambil pemerintah adalah memberikan izin kepada PT Garam untuk mengimpor garam konsumsi agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

“Jawa Timur sudah panen tapi Jawa Tengah ini yang kasihan. Nanti impor lewat Tanjung Perak [Surabaya],” katanya.

Menurutnya, Jawa Timur dan Sumatera Utara sudah tidak mempermasalahkan lagi soal kelangkaan garam karena pasokan dari hasil panenan mulai terpenuhi. Hanya saja, Jawa tengah perlu menjadi perhatian karena selama dua bulan ini petani garam mengalami gagal panen.

“Dua bulan ini mereka enggak kerja. Ini yang perlu kita bantu, maka kalau kebijakan impor direalisasikan, penyaluran bisa lewat Tanjung Perak,” katanya.

Kelangkaan harga garam cukup membuat pelaku IKM resah. Sebab, keterbatasan garam di pasaran membuat produksinya tersendat. Kondisi itu dialami pengusaha telur asin dan ikan asin. Sebelumnya, Hermi salah satu pengusaha telur asin di Sleman terpaksa menaikkan harga jual telur asin karena sulit mendapatkan garam.

“Dapat [garam] saja harganya mahal. Satu plastik Rp20.000, biasanya di bawah Rp15.000. Biasanya bisa nyetok 10 sekarang cuma tiga,” katanya. Ia terpaksa mengeluarkan harga baru. Telur asin yang biasanya dijual Rp2.500 per butir, ia naikkan jadi Rp2.750 per butir.

Kenaikan juga terjadi untuk komoditas ikan teri. Di Pasar Beringharjo yang biasanya dijual Rp37.000, naik menjadi di atas Rp44.000 per kg.

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…