Kepala Dusun Dringo Desa Gunturharjo, Wonogiri, Juwani, dan penjual gula jawa organik Sari Nira, Eni Lisnawati, menunjukkan gula jawa organik Sari Nira yang menjadi oleh-oleh khas di kawasan pantai Nampu, Wonogiri, Kamis (3/8/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Kepala Dusun Dringo Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, Juwani, dan penjual gula jawa organik Sari Nira, Eni Lisnawati, menunjukkan gula jawa organik Sari Nira yang menjadi oleh-oleh khas di kawasan pantai Nampu, Wonogiri, Kamis (3/8/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Jumat, 4 Agustus 2017 16:38 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

PELUANG USAHA
Warga Paranggupito Wonogiri Bikin Gula Jawa Organik dari Nira Kelapa

Peluang usaha, warga sekitar Pantai Nampu Wonogiri membikin gula jawa organik.

Solopos.com, WONOGIRI — Setiap pagi dan sore warga Dringo, Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, memanjat pohon kelapa yang tumbuh di kawasan pantai Nampu. Mereka tidak memetik buah kelapa, melainkan hanya mengambil nira kelapa untuk dibuat menjadi gula jawa.

Pohon kelapa yang diambil niranya, tidak bisa berbuah. Warga setempat menilai hasil penjualan gula jawa lebih menjanjikan dibanding buah kelapa. Saat ini, warga Dringo mengembangkan gula jawa organik yang memiliki harga jual cukup mahal.

Gula jawa organik dijual Rp32.000/kg. Dalam sehari warga bisa menghasilkan hingga 8 kg gula jawa organik sehingga bisa mengantongi Rp256.000 dari 10 pohon kelapa. Dalam satu bulan, sudah bisa mengumpulkan Rp7.680.000.

Sedangkan kalau menjual buah kelapa hanya menghasilkan Rp800.000 dari 10 pohon selama tiga bulan. “Kalau kelapa, satu pohon paling banyak menghasilkan 20 buah dalam waktu tiga bulan. Satu kelapa muda harganya Rp4.000,” kata Kepala Dusun Dringo RT 004/RW 006 Desa Gunturharjo, Juwani, saat berbincang dengan solopos.com, di rumahnya, Kamis (3/8/2017).

Pengambilan nira dua kali dalam sehari itu tidak terpengaruh oleh musim. Musim kemarau maupun musim hujan warga tetap bisa mengambil nira dua kali dalam sehari. “Kalau hujan, biasanya hanya ditutupi tapas [bagian di dekat pangkal daun kelapa]. Hanya, setiap warga belum tentu punya 10 pohon kelapa,” imbuh dia.

Produksi gula jawa organik baru dikembangkan warga Dringo pada 2 Januari 2017 lalu. Sebelumnya, mereka hanya membuat gula jawa biasa dari nira kelapa. Menurut Juwani, perbedaan gula jawa organik dan gula jawa biasa dari cara laru atau proses penjernihan nira. Jika gula jawa biasa menggunakan sabun lerak yang mengandung unsur kimia, namun gula jawa organik menggunakan cairan dari batang nangka yang direndam selama tiga hari.

Selisih harga gula jawa biasa dan gula jawa organik mencapai Rp20.000. Gula jawa biasa rata-rata hanya dijual Rp12.000/kg. Tak semua warga mampu membuat gula jawa organik, misalnya Jumin, warga Dusun Dringo RT 004/RW 006 Desa Gunturharjo. Dia mengaku sering gagal membuat gula jawa organik. Oleh sebab itu, dia masih memproduksi gula jawa biasa.

Oleh-Oleh Pantai Nampu

Namun kebanyakan warga Dringo sudah beralih memproduksi gula jawa organik. Bahkan, mereka sudah membuat merek Sari Nira yang merupakan produk gula jawa organik sebagai oleh-oleh khas pantai Nampu. Tak hanya sebagai oleh-oleh khas, gula jawa organik Sari Nira sudah dipasarkan ke sejumlah tempat di luar Wonogiri, seperti di Boyolali, Klaten, hingga Jakarta.

“Tetapi kalau yang masuk supermarket baru di sekitar Kecamatan Paranggupito,” ujar penjual gula jawa organik Sari Nira, Eni Lisnawati.

Menurut dia, permintaan masyarakat terhadap gula jawa organik cukup tinggi. Sejak selesai Lebaran 2017 hingga sekarang, selalu ada pesanan. Rata-rata satu bulan, gula jawa organik Sari Nira terjual sebanyak 120 kg. “1 kg dijadikan dua stoples besar. Harga satu stoples besar Rp16.000 karena beli stoplesnya di Solo sedangkan pembungkusnya beli di Wonogiri,” terangnya.

Warga Dringo lainnya, Siwir, menjelaskan antusiasme warga bermula ketika ada tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari salah satu kampus dari Solo mengajari pembuatan gula jawa organik pada akhir 2016 lalu. Kemudian, pada April 2017 setiap rumah mendapat bantuan alat cetakan dari pemerintah desa sehingga hampir setiap rumah warga Dringo memproduksi gula jawa.

“Dulu, kami hanya menjual nira kelapa ke pengepul atau kelompok tani. Lalu pengepul atau kelompok tani itu yang membuat gula jawa. Kalau sekarang, hampir setiap rumah memproduksi gula jawa. Kebanyakan sudah bisa membuat gula jawa organik,” ungkapnya.

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…