Miskan, seorang tukang pemotong kayu di Ponorogo, kehilangan satu kakinya setelah terkena gergaji mesin saat bekerja. Foto diambil Selasa (1/8/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Miskan, seorang tukang pemotong kayu di Ponorogo, kehilangan satu kakinya setelah terkena gergaji mesin saat bekerja. Foto diambil Selasa (1/8/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Jumat, 4 Agustus 2017 11:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KISAH TRAGIS
Pria Pemotong Kayu di Ponorogo Kehilangan Kaki akibat Kena Gergaji

Kisah tragis, seorang tukang pemotong kayu di Ponorogo kehilangan satu kakinya setelah mengalami kecelakaan kerja.

Solopos.com, PONOROGO — Seorang tukang pemotong kayu di Ponorogo mengalami kecelakaan kerja hingga harus kehilangan satu kakinya. Pria itu bernama Miskan, 45, warga Dusun Nguda, Desa Pagerukir, Kecamatan Sampung, Ponorogo.

Kaki kanan Miskan akhirnya diamputasi setelah terkena gergaji mesin hingga urat-uratnya putus. Peristiwa memilukan itu terjadi sekitar sebulan lalu.

Saat itu, Miskan bersama tujuh rekannya menerima pekerjaan dari seorang warga untuk menebang pohon di kebun pribadi yang ada di Sampung. Pohon-pohon yang ditebang berada di perbukitan yang curam.

Ia pun membawa gergaji mesin senso untuk memotong belasan kayu tersebut. Hampir separuh kayu tersebut telah ditebang dan dipotong menjadi balokan. Namun, saat Miskan hendak menebang salah satu pohon yang masih berdiri tiba-tiba pohon itu roboh dan gergaji mesin yang masih menyala mengenai kaki kanannya.

“Itu pohonnya ada di perengan, jadi memang lokasinya curam. Ada belasan pohon yang akan ditebang,” kata Miskan saat ditemui Madiunpos.com di rumahnya, Selasa (1/8/2017).

Kejadian itu terjadi sangat cepat, hingga gergaji mesin itu memotong kakinya. Seketika Miskan tidak sadarkan diri dengan tubuh dipenuhi darah. Miskan pun langsung dilarikan ke rumah sakit Aisiyah Ponorogo dengan tubuh penuh darah.

Setelah diperiksa oleh tim medis, kata Miskan, hampir seluruh urat yang ada di kaki terputus karena terkena tebasan gergaji mesin itu. Akhirnya, kaki kanan Miskan diamputasi.

Menjadi seorang pemotong kayu di desa memang menjadi pekerjaan yang penuh risiko. Bapak satu anak itu menyadari risiko tersebut. Namun, pekerjaan tersebut tetap dilakoninya demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kalau risiko kerja kayak gitu ya kita menanggung sendiri. Kan itu pekerjaan borongan dan memang sudah menjadi risiko kalau ada kecelakaan kita yang nanggung sendiri. Berbeda kalau bekerja di perusahaan,” ungkap dia.

Kecelakaan Kerja

Menjadi pemotong kayu sudah dilakoninya sejak masih bujang. Berbagai kecelakaan kerja memang kerap menerpanya, tetapi kali ini yang paling berbahaya dan harus kehilangan salah satu organ yang sangat penting baginya.

Dia menuturkan menjadi pemotong kayu atau pohon tidak setiap hari ada pekerjaan. “Terkadang pekerjaan hanya ada sepekan sekali, bahkan ada kalanya sebulan sekali baru ada job untuk menebang pohon,” tambah dia.

Untuk gergaji mesin yang digunakan, Miskan harus menyewa dari seorang juragan yang ada di desanya. Sehingga hasil dari memotong kayu masih dibagi untuk membayar sewa mesin dan membeli solar.

“Kalau pas kemarin itu sebenarnya nilai borongannya cukup tinggi. Yaitu mencapai Rp9 juta. Mendapat pekerjaan yang besar itu sangat jarang. Kadang bekerja sekali, tetapi sebulan ga ada job lagi,” kata dia.

Miskan saat ini tinggal bersama ibunya, Bibit, dan beserta anaknya Yenita Alifah, 16. Sedangkan istrinya, Murni, 40, saat ini menjadi tenaga kerja wanita di Singapura.

Anak satu-satunya Miskan, sejak kecil mengalami down syndrome. Anaknya hanya berada di rumah tiduran.

Miskan, yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tersebut kini sudah tidak bisa bekerja dengan maksimal. Untuk biaya berobat dan kebutuhan sehari-hari, keluarga itu hanya mengandalkan belas kasihan dari tetangga dan keluarga.

Ia berharap bisa membeli kaki palsu yang bisa menggantikan kaki kanannya yang telah diamputasi. Supaya Miskan bisa mencari nafkah bagi keluarganya. “Ingin punya kaki palsu, tetapi belum ada biaya untuk membelinya,” ujar dia.

Saudara Miskan, Yatno, mengatakan beberapa warga di Desa Pagerukir memang bekerja sebagai tukang pemotong kayu panggilan. Miskan merupakan salah satu pemotong kayu yang cukup lama di desa tersebut.

Selama ini Miskan menjadi tulang punggung di keluarga tersebut. Sejak musibah itu terjadi, warga desa setempat bergotong-royong untuk membantu keluarga tersebut.

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…